Perang di Timur Tengah, Manufaktur RI April Terkontraksi Setelah 9 Bulan Ekspansif
Setelah sembilan bulan sejak Juli 2025 industri pengolahan (manufaktur) Indonesia terus berekspansi, pada April 2026 kinerjanya melorot ke zona kontraksi.
Tercermin dari indeks Puchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur RI versi S&P Global sebesar 49,1 (<50 = kontraksi) pada April 2026.
Pada Maret 2026 PMI Manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi (indeks >50) dengan indeks 50,1, kendati pecah perang di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026. Pada Januari dan Februari 2026 indeknya tercatat jauh lebih tinggi sebesar 52,6 dan 53,8.
Ini berbeda dengan survei Indeks Kepercayaan Industri 9IKI) versi Kementerian Perindustrian, yang mencatat pada April 2026 manufaktur Ri masih berada di zona ekspansi (indeks >50) kendati menurun ekspansinya.
Kontraksi pada April 2026 terjadi karena penurunan volume produksi, menyusul kehati-hatian industri memandang prospek ekonomi menyusul ketidakpastian yang kian tinggi karena faktor geopolitik.
Mengutip publikasi S&P Global mengenai PMI Manufaktur RI, Senin (4/5/2026), memang ada sedikit kenaikan pesanan baru pada manufaktur RI, namun sebagian besar dipengaruhi pemesanan lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan gangguan pasokan di masa depan.
Baca juga: Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur
Kenaikan pesanan terutama berasal dari pasar domestik, sementara pesanan baru dari pasar ekspor justru menurun cukup signifikan.
“Survei S&P menunjukkan, kenaikan pesanan baru itu sering kali karena pelanggan melakukan pembelian lebih awal untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut akibat konflik (di Timur Tengah),” kata Usamah Bhatti, ekonom di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari website resminya.
Menurut S&P, penurunan volume produksi terutama dipicu kenaikan harga bahan baku, kekurangan pasokan, dan melemahnya daya beli pasar.
Tekanan biaya meningkat selama April, dengan tingkat inflasi biaya input (bahan produksi) mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, karena meningkatnya harga bahan baku dan kelangkaan material akibat terganggunya rantai pasok dan naiknya biaya logistik akibat perang tersebut.
Perusahaan merespons kenaikan biaya itu dengan menaikkan harga jual pada awal triwulan dua, dengan tingkat kenaikan terbesar sejak Oktober 2013.
Karena volume produksi menurun, produsen juga sedikit menurunkan aktivitas pembelian bahan baku dan penolong. Keterlambatan pengiriman dan kekurangan pasokan akibat terganggunya rantai pasok, mendorong perusahaan menggunakan persediaan bahan baku yang sudah ada untuk menjaga produksi.
Baca juga: Tekanan Global, Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif Kendati Mengendur
Pada saat yang sama, stok barang jadi meningkat karena produsen menyimpan barang yang belum terjual. “Manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang makin intens karena perang di Timur Tengah, dan mencatat kontraksi produksi yang cukup kuat pada April,” ujar Usamah.
Karena produksi menurun, perusahaan juga mengurangi tenaga kerja dan aktivitas pembelian selama April. Sementara persediaan bahan baku juga menurun, karena perusahaan lebih memilih menggunakan cadangan di tengah kesulitan memperoleh dan menerima bahan baku tersebut.
Usamah menyebut, optimisme pengusaha menurun ke level terendah dalam lima bulan terakhir, di tengah ketidakpastian mengenai lamanya perang tersebut.
Ke depan, pelaku manufaktur Indonesia tetap optimistis volume produksi akan meningkat dalam 12 bulan mendatang. Didukung peluncuran produk baru dan harapan berakhirnya konflik di Timur Tengah, meskipun mereka juga khawatir perang berlangsung lebih lama.
Baca juga: Triwulan I Manufaktur Catat Realisasi Investasi Baru Rp418,62 Triliun
China dan Korea Makin Ekspansif
Berbeda dengan Indonesia, manufaktur China dan Korea justru kian ekspansif menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah. Terutama ditopang kenaikan permintaan baru untuk membangun persediaan dan langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga ke depan.
PMI manufaktur Korea Selatan misalnya, naik ke level 53,6 pada April dari 52,6 pada Maret, atau tetap ekspansif. Indeks April 2026 itu merupakan yang tertinggi sejak Februari 2022.
Begitu pula manufaktur China, mencatat ekspansi tercepat pada April 2026 sejak akhir 2020, didorong lonjakan produksi dan pesanan baru.
Mengutip Kontan.id, PMI manufaktur China versi RatingDog yang disusun S&P Global pada April 2026 naik menjadi 52,2 dari 50,8 pada Maret. Melampaui ekspektasi analis sebesar 51,0.
Pendiri RatingDog Yao Yu mengatakan, data tersebut menegaskan, ekonomi China berada dalam fase pemulihan, didorong pertumbuhan pesanan baru dan ekspektasi bisnis yang membaik.
Survei RatingDog mengungkapkan, produksi manufaktur meningkat pada laju tercepat sejak Juni 2024, ditopang permintaan yang lebih kuat termasuk pesanan ekspor, efisiensi operasional, dan peluncuran produk baru. Ekspansi terjadi secara luas, dengan sektor barang konsumsi mencatat pertumbuhan paling kuat.
Baca juga: Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja
Kendati kian ekspansif, seperti di Indonesia dan banyak negara lainnya, manufaktur di China dan Korea juga dihantui kenaikan biaya bahan baku dan operasional akibat konflik di Timur Tengah.
Produsen merespons dengan menaikkan harga jual pada laju tercepat sejak Oktober 2021. Namun, tidak semua perusahaan berani meneruskan kenaikan biaya itu ke konsumen, sehingga margin keutnungan pun tertekan.
Peningkatan aktivitas produksi manufaktur di China dan Korea juga belum sepenuhnya diikuti dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja. Perusahaan cenderung berhati-hati menambah pekerja karena situasi ekonomi yang makin tidak pasti, meskipun pesanan tertunda terus meningkat selama tiga bulan berturut-turut.