Jumat, Mei 1, 2026
HomeMoneterRupiah Terus Melemah, Bos BI Temui Investor Asing di Singapura, Jelaskan Kondisi...

Rupiah Terus Melemah, Bos BI Temui Investor Asing di Singapura, Jelaskan Kondisi Moneter dan Ekonomi RI

Nilai tukar rupiah yang terus melemah ke level di bawah harga wajarnya (undervalued), karena modal asing terus keluar dari Indonesia akibat makin tingginya ketidakpastian global, mendorong Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengambil berbagai langkah untuk meredamnya. Salah satunya dengan menemui sejumlah investor asing di Singapura, Selasa (28/4/2026).

Mengutip keterangan Ramdan Denny Prakoso, Direktur Departemen Komunikasi BI, pertemuan sejenis akan terus dilakukan untuk memberikan informasi yang solid mengenai fundamental ekonomi RI serta proyeksinya, sehingga memperkuat keyakinan investor dan mendorong arus masuk modal asing.

Dalam pertemuan di Singapura, Perry menjelaskan dinamika geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor risiko utama yang diantisipasi BI terkait upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Untuk itu BI menyesuaikan struktur suku bunga pasar (term structure), dengan menaikkan imbal hasil (yield) instrumen investasi seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menjaga daya tarik aset domestik RI bagi investor asing sekaligus menjaga kondisi ekonomi domestik.

“Kerangka kebijakan BI telah berevolusi dari pengalaman berbagai krisis. Saat ini, BBI mengimplementasikan integrated monetary policy mix yang terdiri dari tiga pilar utama,” kata Perry.

Pertama, kebijakan suku bunga untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam target. Kedua, stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas eksternal dan mencegah pelemahan rupiah merambat ke kenaikan harga. Ketiga, pengelolaan likuiditas domestik untuk memastikan kecukupan likuiditas di sistem keuangan.

Baca juga: Bos BI: Rupiah Sudah Undervalued, Akan Menguat Selaras Fundamental Ekonomi

“Ketiga instrumen ini dijalankan bersamaan dan saling melengkapi, mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global,” jelas Gubernur BI.

Perry juga menjelaskan eratnya koordinasi moneter-fiskal melalui sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Dengan koordinasi kebijakan yang erat, tahun 2026 inflasi RI diperkirakan tetap terkendali di kisaran sasaran 2,5+/-1%, dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9–5,7%. Mencerminkan resiliensi ekonomi domestik dalam menghadapi tekanan eksternal.

Perry menerangkan juga tentang kebijakan makroprudensial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan terus memperkuat insentif KLM (Kebijakan Likuiditas Makroprudensial) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas, serta mempercepat penurunan suku bunga kredit.

Selain itu, BI juga terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran, mencakup pengembangan QRIS, transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal, serta infrastruktur pembayaran ritel, yang makin memperkuat efisiensi dan inklusi keuangan.

Baca juga: Menkeu: Pemerintah dalam “Mode Bertahan” Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Gubernur BI menyampaikan, Indonesia memiliki kapasitas yang kuat menghadapi tekanan global, didukung koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat, serta kerangka kebijakan yang makin matang dan adaptif.

“BI akan terus menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas utama, dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan yang data-dependent, forward-looking, dan responsif terhadap dinamika global,” tuturnya kepada para investor.

Pernyataan Perry itu menegaskan kepada para investor, bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik, didukung fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang kredibel.

Berita Terkait

Ekonomi

Kemenperin Bantah RI Alami Deindustrialisasi, Ini Alasannya

Kementerian Perindustrian (Kemnperin) membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi, atau penurunan...

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih...

Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan infrastruktur pendukung industri, khususnya dalam...

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Berita Terkini