Senin, Mei 4, 2026
HomeNewsEkonomiEkspor RI Tetap Naik Meski Ekonomi Dunia Bergejolak, Surplus Dagang Berlanjut 71...

Ekspor RI Tetap Naik Meski Ekonomi Dunia Bergejolak, Surplus Dagang Berlanjut 71 Bulan Tanpa Putus

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, kendati ekonomi dunia makin tak karuan menyusul perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026, kinerja ekspor Indonesia masih baik.

Memang pada Maret 2026 ekspor Indonesia yang mencapai USD22,53, turun 3,1 persen (yoy) dibanding Maret 2025. Tapi, secara triwulanan (Januari-Maret 2026), ekspor Indonesia tetap tumbuh positif.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, pada Maret 2026 ekspor migas mencapai USD1,28 miliar atau turun 11,84 persen secara tahunan (yoy), dan ekspor non-migas USD21,25 miliar atau turun 2,52 persen.

“Penurunan nilai ekspor Maret 2026 secara tahunan, terutama dipengaruhi penurunan nilai ekspor non-migas,” kata Ateng melalui keterangan resmi yang dirilis BPS, Senin (4/5/2026)

Penurunan terbesar terjadi pada ekspor lemak dan minyak hewani/nabati termasuk minyak sawit (CPO) yang merosot 27,02 persen, dengan andil terhadap penurunan ekspor 3,52 persen.

Juga melorot ekspor kakao dan olahannya 50,89 persen, tapi dengan andil hanya 0,75 persen terhadap total ekspor. Diikuti ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah yang merosot 54,69 persen dengan andil 0,68 persen terhadap total ekspor.

Secara sektoral, kontribusi penurunan terbesar pada ekspor non-migas adalah pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 44,14 persen (yoy) dengan andil terhadap penurunan ekspor non-migas 1,09 persen. Komoditasnya antara lain kopi, buah-buahan tahunan, tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah, serta sarang burung dan cengkeh.

Sedangkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya, serta sektor industri pengolahan mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,15 persen dan 1,26 persen.

Kendati demikian, seperti sudah disinggung di atas, secara triwulanan (Januari-Maret) ekspor RI masih mencatatkan kenaikan 0,34 persen senilai USD66,85 miliar. Ekspor migas mencapai USD3,25 miliar atau turun 10,58 persen, dan ekspor non-migas naik 0,98 persen senilai USD63,60 miliar.

“Industri pengolahan atau manufaktur menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekspor non-migas sepanjang Januari-Maret 2026 dengan andil terhadap kenaikan ekspor 3,15 persen,” kata Ateng.

Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Tanpa Putus

Kenaikan cukup besar terjadi pada ekspor nikel, kimia dasar organik dari hasil pertanian, minyak lapa sawit, kimia dasar organik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik.

Ekspor nonmigas ke Tiongkok mencatat lonjakan signifikan, mencapai US$ 16,50 miliar atau naik 17,49 persen dibanding triwulan satu 2025. Juga meningkat ekspor ke India dan kawasan ASEAN. Sebaliknya, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat dan Uni Eropa menurun.

Sementara itu nilai impor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD61,30 miliar, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Sejalan dengan total impor, nilai impor nonmigas naik 12,16 persen menjadi USD52,97 miliar.

Sedangkan pada Maret 2026 saja, impor mencapai USD19,21 miliar, naik 1,51 persen dibandingkan Maret 2025. Demikian juga impor nonmigas, naik 1,54 persen menjadi USD16,04 miliar dibanding Maret 2025.

Dengan demikian, neraca perdagangan barang Indonesia pada Maret 2026 surplus USD3,32 miliar, atau masih terus mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut tanpa jeda sejak Mei 2020, kendati menurun dibanding surplus Maret 2025 senilai USD4,33 miliar dan meningkat dibanding surplus Februari 2026 sebesar USD1,27 miliar.

Sementara selama Januari-Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia surplus USD5,55 miliar, yang berasal dari surplus sektor nonmigas USD10,63 miliar, dikurangi defisit sektor migas USD5,08 miliar. Melorot dibanding surplus Januari-Maret 2025 senilai USD10,91 miliar (surplus nonmigas USD15,75 miliar dikurangi defisit komoditas migas USD4,84 miliar).

Baca juga: Ekspor Indonesia ke AS Tiga Kali Lebih Besar Daripada Impor

3 negara asal impor
China, Australia, dan Jepang menjadi tiga negara asal impor Indonesia terbesar sepanjang Januari-Maret 2026 dengan share 52,97 persen dari total impor non-migas.

Impor non-migas dari China mencapai USD22,02 miliar dengan share 41,56 persen terhadap total impor non-migas Indonesia. Terutama berupa barang modal dan penolong.

Sementara impor non-migas dari Australia meroket 469,05 persen menjadi USD3,14 miliar, dengan kontribusi utama impor logam mulia dan perhiasan atau permata.

Adapun impor non-migas dari Jepang mencapai USD2,90 miliar atau tumbuh 24,80 persen, dengan komoditas utama barang noal dan bahan penolong serta kendaraan kendaraan dan bagiannya.

Baca juga: Januari Impor Naik 18 Persen, Impor Logam Mulia dan Perhiasan dari Australia Meroket 634 Persen!

Khusus ekspor impor dengan China, Indonesia terus mengalami defisit. Pada triwulan satu 2026, defisitnya makin melebar mencapai USD 5,52 miliar dibanding USD5,23 miliar pada triwulan satu 2025.

Sebaliknya, Indonesia masih terus mencatat surplus perdagangan dengan Amerika Serikat, India dan Filipina, masing-masing senilai USD5,06 miliar, USD3,36 miliar dan USD2,05 miliar.

Berita Terkait

Ekonomi

Perang di Timur Tengah, Manufaktur RI April Terkontraksi Setelah 9 Bulan Ekspansif

Setelah sembilan bulan sejak Juli 2025 industri pengolahan (manufaktur)...

Kemenperin Bantah RI Alami Deindustrialisasi, Ini Alasannya

Kementerian Perindustrian (Kemnperin) membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi, atau penurunan...

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih...

Berita Terkini