Minggu, Mei 3, 2026
HomeHome loanMaret Kredit Properti Kembali Tumbuh Tinggi, Tapi KPR Masih Terus Menurun

Maret Kredit Properti Kembali Tumbuh Tinggi, Tapi KPR Masih Terus Menurun

Laporan uang beredar Maret 2026 yang dilansir Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu mengungkapkan, penyaluran kredit properti kembali meningkat secara tahunan (yoy) pada Maret 2026 sebesar 17,5 persen (yoy) menjadi Rp1.677,6 triliun, setelah Februari 2026 turun menjadi 13,7 persen (yoy) dibanding 14,1 persen (yoy) pada Januari 2026, 13,1 persen (yoy) Desember 2025 dan 7,5 persen (yoy) November 2025.

Kredit properti yang kembali tumbuh tinggi itu, dipengaruhi penyaluran kredit konstruksi yang melesat 47,2 persen dibanding 33,6 persen pada Februari 2026, 34,4 persen per Januari 2026, 28,2 persen pada Desember 2025, dan 8,1 persen per November 2025.

Lompatan tinggi penyaluran kredit konstruksi setelah November 2025, ditengarai dipicu upaya developer mempercepat penyelesaian proyek tahun ini, agar penjualannya bisa mendapatkan insentif PPN DTP sebelum tutup tahun.

Baca juga: Demand KPR Masih Lemah, Bank Tawarkan KPR Take Over, Bunga Murah Meriah

Kemudian kredit real estate juga tumbuh lebih tinggi pada Maret 2026, mencapai 12,9 persen dibanding 10,6 persen pada Februari 2026, 10,1 persen Januari 2026, 8,6 persen Desember 2025, dan 8,2 persen November 2025, yang mengindikasikan developer bersegera melakukan pematangan lahan sehingga bisa memulai konstruksi proyek berjalan.

Sebaliknya penyaluran KPR masih terus menurun. Pada Maret 2027 hanya tumbuh 4,5 persen dibanding 5 persen pada Februari 2026, 5,5 persen Januari 2026, 6,8 persen Desember 2025, dan dan 6,9 persen November 2025.

Baca juga: Penjualan Residensial Astra Property Naik 20-25 Persen Berkat Insentif PPN DTP

Penyaluran KPR yang masih terus melandai, mengindikasikan masih bermasalahnya daya beli msayarakat dalam membeli hunian, kendati bunga bank terus menurun.

Pada Maret 2026, BI mencatat rata-rata tertimbang bunga kredit mencapai 8,73 persen dibanding februari 2026 sebesar 8,78 persen. Sedangkan bunga simpanan berjangka atau deposito tenor 12 bulan dan 24 bulan tercatat sebesar 4,46 persen dan 4,12 persen dibanding Februari 2026 sebesar 4,5 persen dan 4,28 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Kemenperin Bantah RI Alami Deindustrialisasi, Ini Alasannya

Kementerian Perindustrian (Kemnperin) membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi, atau penurunan...

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih...

Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan infrastruktur pendukung industri, khususnya dalam...

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Berita Terkini