Konflik di Timur Tengah Makin Menekan Bisnis Hotel
Jakarta dan Bali adalah dua provinsi yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) masih cukup baik tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotelnya. Pada Februari 2026 mencapai 51,72 persen dan 55,44 persen, terutama untuk hotel berbintang.
Quarterly Property Market Report Q1 2026 yang baru saja dirilis Colliers Indonesia menyatakan, kinerja perhotelan secara historis cenderung mengalami pola musiman, dengan okupansi terlemah pada awal tahun, termasuk di Jakarta.
Tahun ini kondisinya makin diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, yang sangat mungkin meningkatkan potensi pembatalan kunjungan turis dari berbagai negara dan penyelenggaraan acara internasional.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia ferry Salanto, situasi ini paling berpengaruh terhadap hotel bintang lima yang lebih bergantung pada permintaan global dan aktivitas MICE (meetings, incentives, conferences, conventions).
Pada saat yang sama, pasar pemerintahan masih menghadapi tantangan untuk kembali ke kondisi seperti sebelum pandemi. Terlebih dengan adanya kebijakan efisiensi dalam perjalanan dinas dan rapat di luar kantor sejak awal pemerintahan Prabowo, yang makin diperketat setelah pecahnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026.
“Hingga pertengahan 2026, akan menjadi periode yang makin menantang bagi pelaku industri perhotelan. Aktivitas MICE diperkirakan masih terbatas, sementara permintaan korporasi masih sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi dan tingkat kepercayaan dunia usaha,” kata Ferry.
Baca juga: Bisnis Hotel Kian Babak Belur, Okupansi Tinggal 34,88 Persen
Menghadapi tantangan yang makin kompleks, Colluers memperkirakan pelaku bisnis hotel mengalihkan fokus ke pasar Asia-Pasifik dan domestik, guna mengimbangi penurunan kedatangan wisatawan internasional.
Selain itu, peningkatan kreativitas serta fleksibilitas operasional, menjadi faktor penting untuk menangkap segmen permintaan yang lebih spesifik dan mengoptimalkan peluang pendapatan.
Bali
Hal serupa terjadi pada pasar hotel di Bali. Kinerjanya makin melemah, terutama dipicu penurunan kunjungan wisatawan domestik serta melemahnya aktivitas MICE, yang sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya kegiatan institusi pemerintah dan korporasi.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memberikan tekanan tambahan terhadap sektor pariwisata termasuk di Bali. Pasar wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah, mengalami penurunan, yang sebagian dipengaruhi oleh pembatalan dan gangguan penerbangan.
Merespon tantangan tersebut, pelaku industri perhotelan di Bali makin mengalihkan fokus ke permintaan dari wisatawan domestik dan pasar Asia Pasifik.
“Meskipun dampak keseluruhan terhadap Average Occupancy Rate (AOR) belum sepenuhnya terlihat, properti yang sangat bergantung pada pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat telah mencatat penurunan kinerja hingga 10 persen pada triwulan I 2026 dibanding triwulan IV 2025,” ungkap Ferry.
Baca juga: Kunjungan Turis Meningkat, Tapi Okupansi Hotel Belum Juga Membaik
Bila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut, efek lanjutannya bisa mengakibatkan kenaikan tarif penerbangan dan berpotensi makin menekan permintaan perjalanan, terutama dari wisatawan domestik. “Imbasnya, angka kunjungan makin menurun dan berpotensi terjadi perang harga untuk menarik tamu,” ujar Ferry.
Kedepan, operator hotel diproyeksikan menerapkan pendekatan yang lebih adaptif dan strategis, dengan mengadopsi kembali praktik operasional yang telah diterapkan selama masa pandemi, guna mengoptimalkan kinerja di tengah kondisi pasar yang menantang.