Belajar Investasi dari Maestro Warren Buffett, Bill Gross, Ray Dalio
Dunia investasi seringkali terlihat rumit dan penuh ketidakpastian. Namun para investor terbesar sepanjang sejarah justru membangun kekayaan mereka di atas prinsip-prinsip yang sederhana dan konsisten. Nyatanya, kesederhanaan dan konsistensi telah sukses hingga menjadi hal yang terus dibahas hingga saat ini.
Artikel ini akan membahas filosofi dari tiga investor legendaris dunia yaitu Warren Buffett Sang Maestro Saham, Bill Gross Si Raja Obligasi, dan Ray Dalio dengan portfolionya yang ‘anti-badai’ sebagaimana dikutip dari laman resmi Bank BCA Jumat (1/5).
Baca juga: 3 Tips Berinvestasi dan Berbisnis di Australia dari Iwan Sunito
Warren Buffett-Sang Maestro Saham
Dengan gambaran komposisi portofolionya berupa 90 persen saham dan 10 persen kas, Warren Buffett mulai berinvestasi sejak usia 11 tahun. Kunci kehebatan Buffett bukan kecepatan atau kecanggihan teknologi melainkan kesabaran dan disiplin. Ia terkenal tidak pernah menggunakan komputer untuk trading.
Ia percaya bahwa Saham adalah instrumen yang memberikan imbal hasil paling optimal jika dibandingkan dengan kas, obligasi, atau aset lainnya. Ia dikenal sebagai salah satu value investor yang paling sukses di dunia. Namun, ia tidak sembarangan dalam membeli Saham.
Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari Buffet, fokus pada bisnis perusahaan, tidak hanya pada harga Sahamnya. Selalu tanya apakah kita mau menjadi pemilik dari perusahaan ini? Hal ini membantu kita untuk memastikan bahwa perusahaan memang bagus secara fundamental.
Beli ketika harga wajar atau relatif murah, bukan ketika harga saham sedang naik (hype tinggi). Jangan mudah terpengaruh dengan euforia pasar. Ketika market sedang turun, justru itu mungkin momentum terbaik untuk membeli. Pelajari laporan keuangan perusahaan mulai pendapatan, laba bersih, dan arus kas perusahaan. Mulai investasi sedini mungkin karena investasi ibarat maraton, bukan sprint.
Pendekatan Buffet ini akan cocok bagi kita bila emiliki waktu dan minat untuk mempelajari berbagai bisnis perusahaan secara mendalam. Memiliki kesabaran tinggi dan tidak mudah panik ketika market sedang volatil. Memiliki tujuan investasi jangka panjang (di atas 10 tahun). Cukup nyaman dengan komposisi portofolio yang terkonsentrasi hanya di beberapa Saham pilihan. Namun, apabila tidak memiliki banyak waktu dan expertise untuk berinvestasi langsung di saham, kita bisa memilih reksadana saham yang dikelola oleh Manajer Investasi profesional.
Baca juga: Supaya Ada Uang untuk Berinvestasi, Warren Buffett Sarankan 5 Hal Ini
Bill Gross-Si Raja Obligasi
Gambaran komposisi portofolionya 90 persen obligasi dan 10 persen saham. Bill Gross merupakan pendiri Pacific Investment Management Company (PIMCO) dan menjadikannya perusahaan obligasi terbesar di dunia. Selama lebih dari tiga dekade, dia mengelola PIMCO total return fund, salah satu reksadana dengan dana kelolaan terbesar sepanjang sejarah. Total dana kelolaan titik tertingginya sempat mencapai lebih dari 293 miliar dollar Amerika.
Ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membaca “music” pasar obligasi, yakni siklus suku bunga dan kondisi makroekonomi. Ia membuktikan bahwa obligasi bukan sekedar aset yang membosankan melainkan instrumen yang dapat menghasilkan imbal hasil signifikan bila dikelola dengan efektif.
Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari Gross, pasar obligasi adalah salah satu indikator paling penting untuk siklus ekonomi, pergerakan inflasi, arah suku bunga, bahkan pasar saham dan properti. Obligasi adalah aset yang lebih aman dibandingkan saham karena memberikan kupon secara rutin dan harganya akan kembali ke 100 ketika jatuh tempo.
Ketika ekonomi melemah, obligasi malah diuntungkan karena biasanya bank sentral akan menurunkan suku bunga. Ketika suku bunga turun, yield ikut turun (harga naik). Diversifikasi dari segi penerbit (obligasi pemerintah dan korporasi) serta tenor (pendek dan panjang) tetap penting untuk dilakukan.
Pendekatan Gross akan cocok apabila memiliki profil risiko konservatif hingga moderat dan lebih mengutamakan stabilitas. Mendekati masa pensiun atau membutuhkan portofolio yang lebih defensif. Ingin melindungi modal dari volatilitas pasar saham.
Baca juga: Investasi Jangan Pakai Emosi, Yuk Belajar Jadi Investor Pasar Modal
Ray Dalio-Seorang Arsitek dari Portofolio “Anti Badai”
Gambaran komposisi portofolionya 55 persen obligasi, 30 persen saham, 15 persen emas dan komoditas. Ray Dalio merupakan pendiri Bridgewater Associates. Ia sempat bangkrut di usia 30 tahun akibat mempertaruhkan seluruh uang pada prediksi ekonominya yang ternyata salah. Namun kegagalan itu justru mengajarkan bahwa tidak ada satupun manusia yang bisa memprediksi masa depan dengan pasti.
Dari pengalaman tersebut, Dalio membangun sistem investasi yang tidak bergantung pada prediksi melainkan pada keseimbangan risiko. Bridgewater kemudian berkembang menjadi hedge fund terbesar di dunia dan portofolionya bisa tetap positif di tengah krisis finansial tahun 2008, saat hampir semua investor menderita kerugian yang sangat besar.
Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari Dalio, jangan meletakkan seluruh aset dalam satu keranjang. Diversifikasi bukanlah kelemahan melainkan kecerdasan. Siklus ekonomi selalu berulang. Persiapkan portofolio investasi untuk semua skenario. Komposisi portofolio yang terdiri dari gabungan emas, obligasi, dan saham sudah bisa membentuk fondasi yang kokoh. Rebalance portofolio secara berkala (setidaknya setiap tahun) untuk menjaga proporsi aset yang seimbang.
Pendekatan Dalio akan cocok bila ingin memiliki portofolio yang tahan di berbagai siklus ekonomi dan pasar yang terus berputar. Baru mulai berinvestasi dan belum terlalu yakin dengan kelas aset tertentu. Percaya bahwa diversifikasi adalah strategi manajemen investasi terbaik.
Baca juga: BEI-Mandiri Group Hadirkan “Cerdas Investasi, Finansial Mandiri”
Manusia Biasa
Para maestro investasi di atas memiliki satu kesamaan penting: mereka juga manusia biasa. Mereka semua memulai dari nol, membuat kesalahan, belajar dari pengalaman, dan terus berkembang. Warren Buffet pernah rugi besar ketika baru berinvestasi, Bill Gross pernah keliru dalam membuat keputusan di sepanjang karirnya, dan Ray Dalio bahkan pernah bangkrut total.
Yang membedakan mereka bukan sekedar kecerdasan semata melainkan konsistensi, disiplin, dan kemampuan belajar dari kesalahan. Sebagai investor pemula, kita tidak perlu langsung menjadi seperti mereka. Oleh karena itu, ayo mulai pelajari investasi dengan memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan, lakukan sekarang juga!