PMI Manufaktur RI Terkontraksi, Kemenperin: Karena Tekanan Global
Manufaktur atau industri pengolahan adalah motor utama pertumbuhan ekonomi sebuah negara termasuk Indonesia.
April ini kinerja manufaktur Indonesia memburuk. Tercermin dari Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur RI versi S&P Global pada April 2026 yang merosot ke zona kontraksi (indeks <50) sebesar 49,1, dibanding 50,1 pada Maret 2026.
PMI manufaktur April 2026 itu merupakan yang terburuk dalam sembilan bulan terakhir, setelah sejak Juli 2025 terus berada di zona ekspansi (indeks >50).
“Penurunan PMI itu merupakan dampak dinamika global, khususnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga komoditas serta biaya logistik, yang berdampak langsung pada aktivitas produksi manufaktur,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya di Jakarta, Senin (4/5/2026), menanggapi survei bulanan S&P Global itu.
Ia menyebutkan, merespons situasi itu Kemenperin terus melakukan langkah mitigasi dan penguatan industri pengolahan (manufaktur) nasional.
Antara lain dengan mempertemukan ekosistem rantai pasok industri yang terdampak, seperti industri plastik, guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku. Selain mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang asing serta meminimalisasi risiko fluktuasi nilai tukar.
Kemenperin tengah mempercepat perumusan berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor.
Upaya ini diiringi fasilitasi kepada pelaku industri melalui program pendampingan, peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM), serta akselerasi transformasi digital guna meningkatkan efisiensi dan daya saing industri nasional.
Baca juga: Perang di Timur Tengah, Manufaktur RI April Terkontraksi Setelah 9 Bulan Ekspansif
Selain kebijakan perlindungan industri yang dijalankan sebelum terjadi perang di Timur Tengah, Kemenperin sedang menyiapkan usulan baru insentif dan kebijakan perlindungan bagi industri dalam menghadapi gejolak geopolitik dunia, guna mempertahankan utilisasi dan melindungi pekerja industri dari ancaman PHK.
“Rancangan insentif dan kebijakan baru ini memperkuat kebijakan perlindungan industri sebelumnya. Dengan hal ini, diharapkan memperkuat rantai pasok industri menghadapi tekanan global dan melindungi pekerjanya dengan baik,” jelas Febri.
Berdasarkan data S&P Global, tekanan terhadap sektor manufaktur juga dialami negara-negara di Asia Tenggara, meskipun dengan intensitas yang berbeda. PMI manufaktur Vietnam masih di kisaran 50,5, Malaysia berada di level 51,6, menunjukkan negara tersebut tengah mengalami kontraksi ringan.
Baca juga: Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur
Febri menilai Indonesia masih berada di kelompok kontraksi moderat, sejalan dengan tren pelemahan di sebagian negara ASEAN. Indonesia masih relatif lebih baik ditopang permintaan domestik, dibandingkan negara yang mengalami kontraksi lebih dalam seperti Filipina dengan indeks 48,3.
“Kontraksi moderat menunjukkan, manufaktur nasional relatif resilien di tengah tekanan global. Namun, ini juga menjadi sinyal penting untuk memperkuat struktur industri kita agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” jelas Jubir Kemenperin.
Febri mengutip hasil survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 yang menunjukkan, pelaku industri masih menunjukkan optimisme terhadap prospek produksi dalam 6 bulan ke depan, dengan angka 70,1 persen, turun tipis 1,7 persen dibanding bulan sebelumnya.