Berbagai dampak perubahan iklim semakin nyata terjadi mulai dari peningkatan suhu, curah hujan ekstrem, hingga meningkatnya risiko banjir. Hal ini membutuhkan integrasi ketahanan iklim ke dalam perencanaan, desain, hingga pembangunan kota.

Dalam konteks ini, sektor bangunan memiliki peran penting. Selain berkontribusi pada emisi karbon, bangunan juga harus melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim melalui desain, konstruksi, dan pengoperasian yang lebih berkelanjutan.

Untuk mengatasi tantangan ini, Green Building Council Indonesia (GBCI) menyelenggarakan Pertemuan Komunitas Tahunan 2026 dengan tema “Membangun ke Depan: Mempercepat Bangunan Hijau untuk Indonesia yang Tangguh terhadap Perubahan Iklim” di Jakarta pekan lalu.

Acara ini berfungsi sebagai platform kolaboratif bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar pengetahuan, berbagi praktik terbaik, dan memperkuat kemitraan dalam memajukan lingkungan binaan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Sebagai organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, GBCI terus mendorong transformasi sektor bangunan melalui pengembangan standar bangunan hijau, peningkatan kapasitas profesional, program sertifikasi, dan kolaborasi lintas sektor. Upaya-upaya ini mendukung pembangunan rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan perkotaan dan meningkatkan kualitas hidup.

Baca juga: Syarat Rumah Green Menurut GBCI

Chairperson GBCI Ignesjz Kemalawarta mengatakan, perubahan iklim harus menjadi perhatian bersama karena tidak bisa ditangani oleh satu pemangku kepentingan saja dan diskusi ini salah satunya untuk terus mengeksplorasi pendekatan praktis yang bisa memperkuat ketahanan iklim di sektor bangunan.

“Kami sangat menekankan pentingnya mengintegrasikan kebijakan publik, kerangka kerja internasional, dan praktik terbaik industri untuk meningkatkan ketahanan bangunan terhadap risiko terkait iklim,” ujarnya dikutip melalui siaran pers Senin (13/7).

GBCI memperkenalkan agenda strategisnya untuk tahun 2026 yang berfokus pada penguatan kapasitas profesional, perluasan kolaborasi lintas sektor, dan percepatan adopsi bangunan hijau di seluruh Indonesia.

Salah satunya serangkaian inisiatif seperti Festival Bangunan Hijau Indonesia pada bulan September 2026 untuk mendukung Pekan Bangunan Hijau Dunia. Melalui berbagai program ini GBCI bertujuan memfasilitasi pertukaran pengetahuan, memperluas partisipasi pemangku kepentingan, dan menerjemahkan dialog menjadi tindakan yang terukur.

Baca juga: Tatar Surawisesa Kota Baru Parahyangan Raih Greenship Homes GBCI

Sebagai cerminan, penyelenggaraan acara diskusi juga dilakukan ukuran emisi karbon yang dihasilkan oleh perjalanan peserta ke tempat acara dan akan mengimbangi emisi ini melalui program pengimbangan karbon. Inisiatif ini menunjukkan komitmen GBCI terhadap keberlanjutan yang meluas melampaui diskusi dan program strategis hingga bagaimana acara ini diselenggarakan.

“Melalui Pertemuan Komunitas Tahunan 2026, kami optimistis bahwa kolaborasi yang terjalin akan berlanjut melampaui dialog dan mengarah pada implementasi yang bermakna di berbagai sektor. Ketika bangunan dirancang lebih efisien, adaptif, dan tangguh terhadap perubahan iklim, manfaatnya akan meluas melampaui lingkungan hingga orang-orang yang tinggal, bekerja, dan berinteraksi di dalamnya setiap hari,” pungkas Ignesjz.