September Kunjungan Wisman dan Perjalanan Wisnus Menurun, Okupansi Hotel Juga
Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) merosot 10,79 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026. Demikian juga jumlah perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) di dalam negeri menurun 7,30 persen (mtm), kendati secara tahunan (yoy) kunjungan kedua jenis wisatawan itu tetap meningkat pada September 2026.
Penurunan jumlah kunjungan wisman dan perjalanan wisnus itu mempengaruhi bisnis hotel, karena sebagian besar menggunakan akomodasi hotel. Sekitar 60 persen wisman bahkan menginap di hotel berbintang.
Mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal pekan ini, okupansi atau Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Indonesia pada September 2026 mencapai 38,90 persen.
Angka ini turun 0,93 persen poin dibandingkan bulan sebelumnya (mtm), kendati masih meningkat 0,70 persen poin dibandingkan September 2025 (yoy).
Berdasarkan klasifikasi, TPK hotel berbintang tercatat sebesar 51,78 persen pada September 2026.
Secara tahunan (yoy), TPK hotel berbintang pada September 2026 meningkat 1,62 persen poin dibandingkan September 2025. Tapi, dibandingkan Agustus 2026 (mtm), menurun 0,74 persen poin
Secara kumulatif selama Januari-September 2026, TPK hotel berbintang mencapai 49,81 persen, naik 2,23 persen poin dibandingkan TPK pada periode yang sama 2025 (ctc).
Baca juga: Hotel Juga Berkembang Menjadi Destinasi Gaya Hidup, Bukan Sekedar Tempat Menginap
Secara spasial, TPK hotel berbintang tertinggi masih tercatat di Bali sebesar 66,42 persen, diikuti DKI Jakarta dan Papua Selatan sebesar 58,18 persen dan 56,97 persen.
Sementara okupansi hotel nonbintang dan akomodasi lainnya, pada September 2026 mencapai 25,57 persen. Meningkat 0,19 persen poin dibandingkan September 2025 (yoy), namun menurun 1,14 persen dibandingkan Agustus 2026 (mtm). Secara kumulatif dari Januari hingga September 2026, okupansi hotel nonbintang dan akomodasi lainnya juga naik tipis 0,56 persen menjadi 25,38 persen dibanding Januari-September 2025.
Secara spasial, okupansi hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tertinggi juga tercatat di Bali sebesar 41,19 persen, diikuti DKI Jakarta 39,32 persen dan Kepulauan Riau 34,52 persen.
Baca juga: Colliers: Pasar Hotel Belum Pulih
Berdasarkan klasifikasi hotel, okupansi tertinggi pada September 2026 tercatat pada hotel bintang 5 sebesar 59,11 persen, sedangkan terendah pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 25,57 persen.
Secara tahunan (yoy/September 2026 dibanding September 2025) seluruh klasifikasi hotel mengalami peningkatan, dengan hotel bintang 2 mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,39 persen poin, diikuti hotel bintang 5 sebesar 2,00 persen poin, dan hotel bintang 1 sebesar 1,77 persen poin. Sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya, mengalami peningkatan okupansi terendah sebesar 0,19 persen poin.
Sebaliknya secara bulanan (mtm/September 2026 dibanding Agustus 2026), seluruh klasifikasi hotel mengalami penurunan okupansi, dengan hotel bintang 1 mencatat penurunan okupansi tertinggi sebesar 1,70 persen poin. Diikuti hotel bintang 2 yang turun 1,46 persen poin, dan hotel bintang 5 yang turun 1,37 persen poin.
Baca juga: Okupansi Hotel Terus Membaik, Okupansi Tertinggi Masih Hotel Bintang 5
Sementara secara kumulatif (ctc/Januari-September 2026 dibanding Januari-September 2025), TPK hotel di Indonesia mencapai 37,78 persen atau meningkat 0,74 persen poin.
Seluruh klasifikasi hotel mengalami peningkatan TPK secara tahun kalender, dengan kenaikan tertinggi pada hotel bintang 2 sebesar 2,39 persen poin, dan terendah pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 0,56 persen poin.