Kendati Menurun, Inflasi Oktober Masih Tinggi, Disumbang Lonjakan Harga Bahan Makanan
Laporan Badan Pusat Statistik, Senin (2/11/2026), mengungkapkan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2026 mencapai 0,22 persen secara bulanan (mtm) dari September 2026 sebesar 0,30 persen (mtm), sehingga secara tahunan (yoy) IHK mengalami inflasi 3,23 persen (yoy).
Menurun dibandingkan dengan inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen (yoy), namun masih tetap tinggi karena mendekati kisaran sasaran inflasi tahun ini sebesar 2,5±1% atau maksimal 3,5 persen. Bahkan, jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober 2025 sebesar 2,86 persen (yoy).
Penyumbang utama inflasi Oktober 2026 masih melanjutkan tren tiga bulan sebelumnya. , Yaitu, kenaikan harga bahan makanan atau volatile food (pangan yang mudah bergejolak), yang secara bulanan mengalami inflasi 0,77 persen (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan inflasi September 1,46 persen (mtm).
Namun, secara tahunan, inflasi kelompok volatile food mencapai 5,81 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 5,03 persen (yoy).
Inflasi kelompok volatile food pada Oktober 2026, disumbang terutama oleh komoditas cabai merah dan cabai rawit, didorong penurunan produksi di sejumlah daerah sentra, dan dampak gangguan cuaca ekstrim (El Nino) terhadap pasokan dan harga bahan pangan. Selain itu, juga oleh kenaikan harga ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, serta sigaret kretek mesin dan daging sapi.
Baca juga: Inflasi Makin Tinggi, September Capai 3,28 Persen, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Pangan
Penyumbang inflasi berikutnya, adalah kelompok administered prices (barang dan jasa yang harganya diatur pemerintah), yang pada Oktober 2026 mencapai 0,09 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,00 persen (mtm).
Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan kelompok administered prices pada Oktober 2026 itu, adalah tarif angkutan udara, sejalan dengan penerapan tarif fuel surcharge sebesar 40 persen untuk penerbangan domestik kelas ekonomi. Penyunbang lain
Secara tahunan, kelompok administered prices juga masih mencatat inflasi tinggi sebesar 3,24 persem (yoy), kendati menurun amat tipis dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,25 persen (yoy).
Inflasi kelompok inti (inflasi tanpa volatile food dan administered prices), pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,12 persen (mtm), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,10 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama yang mempengaruhi harga emas. Secara tahunan, inflasi inti pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,56 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,84 persen (yoy).
Baca juga: Para Ekonom: Defisit Fiskal dan Inflasi Meningkat Bisa Diterima, Demi Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi
Bank Indonesia dalam responnya terhadap angka inflasi itu menyatakan, inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran itu, merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah, serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027,” tulis laporan Bank Indonesia melalui Direktur Eksekutyif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso.
Menanggapi inflasi yang tetap tinggi itu, pemerintah akan melansir program diskon tarif transportasi temasuk angkutan udara menjelang Nataru. Juga meluncurkan program perlinsos untuk menjaga daya beli masyarakat.