Minggu, November 1, 2026
HomeNewsEkonomiManufaktur RI Kian Ekspansif, Indeks Kepercayaan Industri Tertinggi Sejak Februari

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Indeks Kepercayaan Industri Tertinggi Sejak Februari

Industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kian ekspansif. Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang mencapai 53,77, meningkat 1,84 poin dibandingkan September 2026 sebesar 51,93, dan naik 0,27 poin dibandingkan IKI Oktober 2025 yang tercatat sebesar 53,50.

IKI Oktober 2026 menjadi yang tertinggi sejak Februari 2026 yang mencatat IKI sebesar 54,02. Hampir sama IKI industri ekspor tercatat sebesar 53,93, IKI berorientasi pasar domestik 53,55. Indeks >50 menunjukkan ekspansi atau peningkatan, <50 kontraksi (minus), dan 50 stabil.

Manufaktur adalah penopang terbesar pertumbuhan ekonomi (PDB) RI, dengan share sekitar 19 persen. Karena itu naik turunnya menjadi perhatian utama berbagai lembaga domestik (seperti Kemenperin dan BI) dan global (seperti S&P Global).

Menurut keterangan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang dirilis akhir pekan ini, dari 3 komponen pembentuknya, kenaikan ekspansi IKI Oktober 2026 ditopang peningkatan pesanan baru dan produksi.

Indeks pesanan baru naik 2,68 poin menjadi 56,08, sehingga menjadi pendorong terbesar peningkatan IKI pada Oktober 2026, sekaligus mengindikasikan permintaan terhadap produk manufaktur terus menguat.

Karena permintaan pasar menguat, indeks produksi juga meningkat untuk memenuhi permintaan. Peningkatannya mencapai 1,60 poin menjadi 55,38.

Baca juga: September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

Namun, karena ketidakpastian situasi ekonomi domestik dan global yang masih tinggi, pelaku manufaktur belum berani menambah persediaan, guna menjaga arus kas atau likuiditas.

Sebab itu, indeks persediaan produk pada Oktober 2026 hanya naik tipis 0,15 poin menjadi 45,60, alias masih berada di zona kontraksi. Variabel persediaan produk sudah berada di zona kontraksi selama lima bulan berturut-turut,” tulis keterangan Kemenperin.

Dari 23 subsektor manufaktur yang dianalisis Kemenperin, sebanyak 19 subsektor berada di zona ekspansi, sedangkan 4 subsektor masih di zona kontraksi.

Sebanyak 19 subsektor yang tumbuh tersebut berkontribusi sebesar 94,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026. Artinya, ekspansi mencakup subsektor yang berkontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi.

Salah satu subsektor dengan capaian menonjol adalah industri makanan (terutama minuman), yang terus berekspansi dalam 5 bulan terakhir, dan mencatat IKI tertinggi pada Oktober 2026.

Didorong terutama oleh kenaikan permintaan domestik, dan juga ekspor, dan kemudian untuk menyambut periode hari besar keagamaan akhir 2026 (Nataru) dan awal 2027 (Ramadan dan Idul Fitri).

Baca juga: Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan

Sementara industri kertas dan barang dari kertas, kembali ke fase ekspansi setelah terkontraksi bulan lalu, ditopang peningkatan permintaan kertas kemasan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Empat subsektor yang masih kontraksi adalah industri kayu dan barang dari kayu-gabus, pencetakan dan reproduksi media rekaman, karet dan barang dari karet-plastik, serta furnitur.

Pemicunya pelemahan pesanan ekspor, gangguan pasokan bahan baku, kenaikan biaya produksi, dan ketidakpastian permintaan global.

Sedangkan industri tembakau ekspansinya melambat, antara lain dipengaruhi peredaran rokok ilegal, dan regulasi pembatasan nikotin dan tar, yang yang mempengaruhi daya saing rokok legal.

Berita Terkait

Ekonomi

Meningkat Pelaku Manufaktur yang Bilang Kondisi Usahanya Membaik

Industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kian ekspansif. Tercermin dari...

Mahakam Investment Forum Perluas Investasi di IKN Hingga Kalimantan Timur

Mahakam Investment Forum (MIF) 2026 kembali digelar di Ibu...

Berita Terkini