Ketua OJK: Penyaluran Kredit September Tertinggi dalam 10 Tahun
Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, intermediasi perbankan tetap kuat di tengah gonjang-ganjing situasi ekonomi global. Tercermin dari pertumbuhan kredit September 2026 yang mencapai 13,26 persen (yoy).
Didukung kredit investasi (KI), kredit modal kerja (KMK), dan kredit konsumsi (KK) yang tumbuh 23,20 persen (yoy), 11,89 persen (yoy), dan 4,86 persen (yoy). “Kredit ke korporasi yang tidak terkait dengan program pemerintah juga meningkat,” tulis laporan RDG BI tersebut.
Memang, pertumbuhan kredit September 2026 lebih rendah dibanding Agustus dan Juli 2026. Pada Agustus 2026 kredit tumbuh 13,65 persen (yoy), meningkat dibanding Juli 2026 yang tumbuh 13,58 persen (yoy).
Perkembangan kredit Agustus dan Juli 2026 itu juga didukung oleh KI, KMK, dan KK. Pada Agustus 2026 tumbuh masing-masing 25,11 persen (yoy), 11,45 persen (yoy), dan 5,07 persen (yoy).
Sementara kredit UMKM yang pada sekian bulan di awal tahun terkontraksi (minus), pada triwulan tiga 2026 kembali tumbuh positif, terakhir per September 2026 tumbuh sebesar 2,68 persen.
BI memperkirakan, pada triwulan IV 2026 (Oktober-Desember) kredit berpotensi kembali naik lebih tinggi. Antara lain, karena masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Baca juga: Triwulan IV Kredit Akan Tumbuh Lebih Tinggi, Karena Besarnya Kredit yang Belum Ditarik
Apalagi, standar penyaluran kredit pada triwulan IV 2026 juga lebih longgar dibandingkan triwulan sebelumnya, meski masih berada di zona ketat.
Tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) triwulan IV 2026 sebesar 0,15, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,28.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia selama Juli-September 2026 itu merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir, kendati sedikit melandai pada September 2026.
“Artinya, intermediasi perbankan masih berjalan kuat di tengah tantangan ekonomi global. Pertumbuhan kredit itu menguat di seluruh kelompok perbankan, baik BUMN maupun swasta,” katanya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026), sebagaimana dikutip media massa.
Total kredit perbankan saat ini mencapai lebih dari Rp9.200 triliun, sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp10.492 triliun.
Baca juga: Penyaluran Kredit Konsumsi Belum Juga Membaik
Permodalan perbankan juga tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 24,3 persen, rasio aset likuid terhadap DPK 24,08 persen, dan rasio kredit bermasalah (NPL) 2,07 persen (gross).
Rasio pinjaman terhadap simpanan (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan secara keseluruhan mencapai 88,11 persen.
LDR bank BUMN menjadi yang tertinggi mencapai 89 persen, dan bank swasta 85,28 pesen. Sementara LDR bank pembangunan daerah (BPD) disebut Friderica juga cukup baik.
“Kinerja tersebut menunjukkan, sektor jasa keuangan masih mampu menjalankan fungsi intermediasi dan menopang aktivitas ekonomi di dalam negeri, meskipun kondisi global masih penuh tantangan,” tutupnya.