Selasa, Oktober 27, 2026
HomeBankBank Mandiri: Uang Beredar Meningkat, Likuiditas Tetap Longgar

Bank Mandiri: Uang Beredar Meningkat, Likuiditas Tetap Longgar

Periode bulan September 2026 uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,3 persen secara tahunan (yoy) yang meningkat dibandingkan periode Agustus 2026 sebesar 8,2 persen. Posisi uang beredar mencapai Rp10.587,9 triliun. Data ini dikutip dari Daily Economic and Market Review yang diterbitkan Bank Mandiri Selasa (27/10).

Berdasarkan komponennya, uang beredar dalam arti sempit (M1) dengan pangsa 56,9 persen dari M2 tumbuh stabil sebesar 9 persen (yoy) menjadi Rp6.029,3 triliun, sementara uang kuasi tumbuh 7,3 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,5 persen.

Untuk diketahui, M2 merupakan total seluruh uang yang ada dalam perekonomian, mencakup uang tunai, simpanan yang sangat likuid, hingga aset keuangan yang mudah dicairkan. M1 atau uang beredar sempit, terdiri dari uang karta (uang kertas-logam di tangan masyarakat) serta uang giral (rekening giro yang bisa digunakan untuk pembayaran). Sementara uang kuasi meliputi tabungan, deposito, valuta asing, hingga rekening giro.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi M2, peningkatan pada bulan September 2026 terutama didorong oleh kenaikan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan peningkatan aktiva luar negeri bersih.

Baca juga: Belanja Pemerintah Kembali Ngegas, Uang Beredar Meningkat Sedikit

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 24,4 persen (yoy), berbalik dari kontraksi sebesar 7 persen pada Agustus 2026. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh 1 persen setelah mengalami kontraksi sebesar 6,6 persen pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, pertumbuhan penyaluran kredit melambat menjadi 12,7 persen dari 13,3 persen pada Agustus 2026.

Berdasarkan komponen dalam M2, giro rupiah yang menyumbang porsi 20,4 persen tumbuh lebih tinggi sebesar 8,4 persen pada September 2026, dari 7,1 persen pada bulan sebelumnya.

Simpanan berjangka, komponen dengan porsi terbesar (31,1 persen) juga meningkat menjadi 5,2 persen dari 4,6 persen sementara giro valas (porsi 8,2 persen) tumbuh menjadi 13,9 persen dari 11,8 persen. Sebaliknya, tabungan rupiah dengan porsi 24,9 persen melambat menjadi 8 persen dari 8,9 persen (yoy).

Dengan data ini, ke depan Bank Mandiri memperkirakan likuiditas perekonomian diperkirakan akan tetap longgar hingga akhir tahun 2026.Dari sisi fiskal, peningkatan belanja pemerintah menjelang akhir tahun serta keberlanjutan Penempatan Uang Negara (PUN) sebesar Rp200 triliun di perbankan berpotensi mendukung perputaran uang dalam perekonomian.

Baca juga: Triwulan IV Kredit Akan Tumbuh Lebih Tinggi, Karena Besarnya Kredit yang Belum Ditarik

Dari sisi moneter, jatuh tempo SRBI sekitar Rp300 triliun sepanjang 4Q26 dan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap pada November–Desember 2026 turut memperluas ruang pembiayaan.

Kebutuhan uang juga akan cenderung meningkat seiring aktivitas ekonomi musiman menjelang Natal dan Tahun Baru, terutama dari konsumsi rumah tangga, perdagangan, dan pariwisata. Dengan dukungan tersebut, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit mencapai 10,75 persen (yoy) pada akhir 2026 atau lebih tinggi dibandingkan realisasi pada akhir 2025 sebesar 9,69 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Pemerintah: Tingkat Pengangguran Dekati Level Terendah, Penciptaan Lapangan Kerja Baru Dua Kali Lipat

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, indikator ketenagakerjaan nasional tahun...

Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI: Ekonomi RI Memburuk Dibanding 3 Bulan Lalu

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis...

Survei LPEM UI: Penciptaan Lapangan Kerja Indonesia Makin Buruk

Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga...

Berita Terkini