Rabu, Oktober 28, 2026
HomeNewsEkonomiPara Ekonom: Defisit Fiskal dan Inflasi Meningkat Bisa Diterima, Demi Ekonomi Tumbuh...

Para Ekonom: Defisit Fiskal dan Inflasi Meningkat Bisa Diterima, Demi Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), merilis hasil Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 bertajuk “Ambisi Ekonomi Indonesia di Tengah Meningkatnya Skeptisisme”.

Survei yang melibatkan 63 ekonom di dalam dan luar negeri ini, bertujuan memperoleh wawasan para ahli ekonomi mengenai lanskap ekonomi Indonesia.

Survei mengumpulkan persepsi para ekonom mengenai kondisi ekonomi dan sosial, serta perkembangan kebijakan, dan membandingkannya dengan periode sebelumnya sekaligus mengevaluasi ekspektasi masa depan. Survei dilakukan selama 21 September hingga 13 Oktober 2026 melalui platform survei online.

Salah satu hasil survei, para responden relatif lebih bersedia menerima tekanan fiskal dan makroekonomi demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Konsekuensi yang paling banyak dianggap dapat diterima, adalah defisit fiskal yang lebih lebar, dipilih oleh 29 dari 63 responden (46 persen).

Diikuti oleh inflasi yang sedikit lebih tinggi (23 responden, 37 persen), dan pelemahan nilai tukar Rupiah secara struktural (22 responden, 35 persen).

Sementara peningkatan ketimpangan pendapatan yang bersifat sementara, dan pelebaran defisit transaksi berjalan, masing-masing dianggap dapat diterima oleh 17 responden (27 persen), diikuti oleh peningkatan peran pemerintah dalam perekonomian (12 responden, 19 persen), dan perlambatan pencapaian target lingkungan hidup (11 responden, 17 persen).

“Hanya 10 responden (16 persen) yang menyatakan, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan salah satu dari aspek yang disebutkan dalam pilihan jawaban,” tulis hasil survei dikutip, Rabu (28/10/2026).

Baca juga: Survei Ahli Ekonomi LPEM UI: Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tahun Depan Sulit Tercapai

Kemudian, hanya 4 responden (6 persen) yang menganggap penurunan stabilitas ekonomi secara keseluruhan, sebagai konsekuensi yang dapat diterima.

Kebijakan fiskal, keuangan, dan moneter
Para responden sendiri masih skeptis terhadap efektivitas kebijakan fiskal saat ini dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Sebanyak 11 responden menilai kebijakan fiskal sangat tidak efektif, dan 21 responden menilai tidak efektif. Sementara 26 ekonom berpendapat, kebijakan fiskal saat ini tidak memberikan dampak terhadap stabilitas ekonomi. Hanya 5 responden yang menilai kebijakan tersebut efektif, dan tidak ada yang menilai sangat efektif.

Persepsi terhadap kebijakan sektor keuangan membaik dibanding survei sebelumnya, namun sebagian besar ahli masih belum yakin akan efektivitasnya,

Separuh dari para ahli menilai, kebijakan keuangan saat ini tidak berdampak terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Penilaian negatif masih relatif banyak, dengan 18 responden menilai tidak efektif, dan 2 responden menilai sangat tidak efektif. Sebaliknya, 11 responden menilai efektif, dan tidak ada yang menilai sangat efektif.

Baca juga: Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI: Ekonomi RI Memburuk Dibanding 3 Bulan Lalu

Kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi dan mengelola rupiah, memperoleh penilaian yang relatif berimbang, dengan persepsi yang secara umum tidak berubah.

Sebanyak 28 responden menilai, kebijakan moneter tidak berdampak. Penilaian hampir terbagi rata antara yang menilai tidak efektif (17 responden) dan efektif (16 responden). Hanya 2 responden yang menilai sangat tidak efektif, dan tidak ada yang menilai sangat efektif.

Terlalu optimistis
Hasil survei juga menyebutkan, indikator utama ekonomi saat ini dinilai dapat memberikan gambaran yang terlalu optimistis mengenai kondisi perekonomian Indonesia. “Sebanyak 44 dari 63 responden (70 persen) memilih indikator tersebut,” tulis hasil survei.

Tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran, menyusul sebagai indikator yang paling banyak dipilih, masing-masing oleh 31 responden (49 persen).

Baca juga: LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya

Hal ini mengindikasikan, bahkan indikator sosial yang umum digunakan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya di masyarakat.

Defisit fiskal (20 responden, 32 persen) dan pertumbuhan investasi (13 responden, 21 persen), juga dinilai memberikan gambaran yang terlalu positif oleh sebagian responden. Adapun kinerja pasar keuangan (10 responden, 16 persen) menjadi perhatian responden dengan proporsi relatif lebih kecil.

Berita Terkait

Ekonomi

Cerita Wamenkeu Tentang Pemanfaatan AI dalam Siklus APBN dan Risikonya

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Nurkholisoh Ibnu Aman mengajak pegawai...

Pemerintah: Tingkat Pengangguran Dekati Level Terendah, Penciptaan Lapangan Kerja Baru Dua Kali Lipat

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, indikator ketenagakerjaan nasional tahun...

Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI: Ekonomi RI Memburuk Dibanding 3 Bulan Lalu

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis...

Survei LPEM UI: Penciptaan Lapangan Kerja Indonesia Makin Buruk

Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang dirilis Lembaga...

Berita Terkini