Penjualan Rumah Anjlok, Kenaikan Harga Minimal
Harga rumah di Indonesia secara umum selalu meningkat dalam berbagai situasi, karena asumsi kebutuhannya masih lebih tinggi dibanding penawaran di pasar.
Gejolak ekonomi global yang melambungkan harga energi, biaya bahan baku dan logistik, diikuti pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini, memaksa developer tetap menaikkan harga rumahnya kendati penjualan jeblok, karena meningginya harga bahan bangunan.
Kendati demikian, Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia yang dilansir, Jumat (6/11/2026), mencatat kenaikan harga rumah baru atau properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 terbatas.
Tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan III 2026 sebesar 111,02 atau tumbuh 0,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2026 yang tumbuh 0,69 persen (yoy).
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar, yang masing-masing mencatat indeks 114,15 dan 108,50 dengan pertumbuhan 0,63 persen (yoy) dan 0,57 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan II 2026 yang tumbuh 0,83 persen (yoy) dan 0,68 persen (yoy).
Baca juga: Triwulan III Penjualan Seluruh Tipe Rumah Jeblok
Perlambatan lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga rumah tipe kecil. Indeks harga rumah tipe kecil mencatat peningkatan menjadi 114,14 dengan pertumbuhan 0,55 persen (yoy), dibandingkan triwulan II 2026 yang tumbuh 0,49 persen (yoy).
Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 7 kota di antaranya mengalami perlambatan pertumbuhan harga, dan 1 kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan.
Secara triwulanan (qtq), IHPR di pasar primer pada triwulan III 2026 tumbuh 0,11 persen (qtq), melambat dibandingkan triwulan III 2026 yang tumbuh 0,26 persen (qtq).
Perlambatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan rumah tipe menengah dan besar yang melambat pada triwulan III 2026, menjadi 0,13 persen (qtq) dan 0,08 persen (qtq), dari 0,40 persen (qtq) dan 0,26 persen (qtq) pada triwulan II 2026.
Baca juga: Harga Rumah Tetap Meningkat, Meski Penjualannya Masih Berat
Sementara harga rumah tipe kecil pada triwulan III 2026 meningkat 0,23 persen (qtq), dibanding triwulan II yang mengalami kontraksi (minus) 0,02 persen (qtq).
Secara spasial, perlambatan harga secara triwulanan pada triwulan III 2026, terutama bersumber dari perlambatan harga rumah di Kota Pekanbaru dan Kota Banjarmasin, masing-masing tumbuh 0,39 persen (qtq ) dan 0,07 persen (qtq), dibanding triwulan sebelumnya sebesar 3,26 persen (qtq) dan 1,28 persen (qtq).