Kamis, November 5, 2026
HomeNewsEkonomiPrediksi Para Ekonom Meleset, Triwulan III Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

Prediksi Para Ekonom Meleset, Triwulan III Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III (Q3) 2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meningkat dibanding triwulan II 2025 sebesar 5,29 persen (yoy), juga jauh lebih tinggi dibanding triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 5,04 persen (yoy).

Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud dalam konferensi pers, pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku, tercatat Rp6.741 triliun dan atas dasar harga konstan Rp3.633,2 triliun.

“Dengan demikian ekonomi Indonesia pada triwulan tiga-2026 secara tahunan dibanding triwulan dua 2026 tumbuh 5,47 persen,” katanya. Dengan pertumbuhan triwulan tiga itu, secara akumulatif selama Q1-Q3 ekonomi RI tumbuh 5,45 persen.

Data pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 itu di atas prediksi kebanyakan ekonom yang memperkirakan, ekonomi RI triwulan III hanya akan tumbuh 5,2-5,3 persen secara tahunan.

Sementara itu secara triwulanan (qtq), pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 merosot menjadi 1,59 persen, dibanding triwulan II 2026 yang tumbuh 3,73 persen.

Edy menyatakan, penurunan tersebut karena faktor musiman, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, karena efek basis pertumbuhan triwulan II-2026 yang relatif tinggi akibat adanya momentum Lebaran, Idulfitri, dan libur sekolah.

Baca uga: Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Makin Tangguh

Pertumbuhan ekonomi 5,47 persen (yoy) pada triwulan III masih ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, dengan total kontribusi 82,78 persen terhadap PDB.

Dari sisi pengeluaran, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB mencapai 51,97 persen, dengan pertumbuhan 5,04 persen (yoy). Sementara pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi 30,81 persen, dengan pertumbuhan 6,06 persen (yoy).

Sedangkan belanja pemerintah yang menyumbang 7,28 persen terhadap PDB, tumbuh 8,95 persen (yoy) sekaligus menjadi komponen pertumbuhan tertinggi dibandingkan yang lain pada triwulan III.

Konsumsi rumah tangga menyumbang 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi 5,47 persen pada triwulan III, PMTB 1,91 poin persentase, dan konsumsi pemerintah 0,62 poin persentase.

Meski masih tumbuh positif, sumber pertumbuhan dari sejumlah komponen mengalami penurunan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan III dibandingkan triwulan II.

Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga memberikan sumber pertumbuhan 2,68 poin persentase, PMTB 2,06 poin persentase, dan konsumsi pemerintah 1,07 poin persentase, alias lebih tinggi dibanding triwulan III yang angkanya sudah disebutkan di atas.

“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,04 persen (yoy) pada triwulan III, dari 5,06 persen (yoy) pada triwulan II,” ujar Edy.

Perlambatan lebih dalam tertahan oleh stimulus kebijakan pemerintah berupa subsidi BBM, dan peningkatan permintaan dari program prioritas nasional seperti MBG.

Baca juga: Ekonomi Selalu Tumbuh di Atas 5 Persen, Tapi Kenapa Penjualan Rumah Terus Menurun?

Pertumbuhan investasi juga menurun menjadi 6,06 persen (yoy) dari 6,87 persen (yoy), dan konsumsi pemerintah melorot menjadi 8,95 persen (yoy) dari 15,97 persen (yoy) pada trriwulan III.

Juga merosot pertumbuhan konsumsi lembaga nonpemerintah yang melayani rumah tangga (LNPRT) menjadi 5,02 persen (yoy) dari 6,93 persen (yoy), sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB triwulan III 2026 turun menjadi 0,06 poin dari 0,09 poin.

Sementara pertumbuhan ekspor, penyumbang lain pertumbuhan ekonomi, menguat menjadi 4,59 persen (yoy) dari 4,13 persen (yoy) pada triwulan dua, sebaliknya pertumbuhan impor melambat menjadi 7,31 persen dari 8,82 persen sehingga mengurangi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan kata lain, meskipun ekspor neto (selisih antara ekspor dan impor) masih terus berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi RI, besarannya susut menjadi 0,28 poin persentase dibanding 0,9 poin persentase pada triwulan II-2026.

Untuk konsumsi rumah tangga, pertumbuhannya pada triwulan III 2026 ditopang oleh konsumsi restoran dan hotel yang tumbuh 6,59 persen, seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.

Kemudian konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh 5,83 persen, didukung mobilitas rumah tangga serta penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti pertunjukan dan acara olahraga.

Baca juga: Kunjungan Wisman Sudah Menyamai Prapandemi, Lama Tinggal dan Pengeluarannya Juga Meningkat

Untuk investasi, pertumbuhannya didorong oleh produksi subkomponen kendaraan yang tumbuh 12,96 persen, baik yang berasal dari produksi domestik maupun impor.

Dari sisi lapangan usaha, seluruhnya mengalami pertumbuhan positif. Yang memberi kontribusi besar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan dengan share 65,3 persen dari PDB Indonesia.

Lapangan usaha yang tumbuh tinggi, itu tadi, penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 11,22 persen didorong peningkatan hunian kamar hotel dan konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran, serta lapangan usaha jasa keuangan dan jasa lainnya yang tumbuh 8,47 persen dan 8,32 persen.

Industri pengolahan masih menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,20 persen dari 5,47 persen, diikuti perdagangan 0,94 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,49 persen. Sementara pertanian dan kehutanan menurun pertumbuhannya karena faktor cuaca sebagai dampak El Nino.

Berita Terkait

Ekonomi

Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Makin Tangguh

Tiga indikator makroekonomi yang dirilis, Senin, 2 November 2026,...

Oktober Neraca Dagang RI Tetap Surplus Kendati Sedikit Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/11/2026), neraca perdagangan...

Berita Terkini