Cadangan Devisa Kembali Meningkat, Oktober Bertambah USD500 Juta
Cadangan devisa RI terkuras sepanjang Desember 2025-Mei 2026 senilai total USD11,6 miliar atau lebih dari Rp208 triliun (kurs Rp18.000/USD), guna mempertahakan nilai tukar rupiah kendati kurang berhasil.
Kalau pada Desember 2025 cadangan devisa masih USD156,5 miliar, pada Mei 2026 tinggal USD144,9 miliar. Pada Juni 2026 cadangan devisa itu kembali naik walaupun tipis (sekitar USD700 juta) menjadi USD145,6 miliar.
Pada Juli 2026 cadangan devisa RI kembali berkurang sedikit sekitar USD300 juta menjadi USD145,3 miliar, namun kembali meningkat pada Agustus 2026 menjadi USD146,5 miliat, dan menurun lagi USD200 juta menjadi USD146,3 miliar pada September 2026, untuk kemudian kembali bertambah pada Oktober 2026.
Menurut laporan Bank Indonesia melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, Jumat (6/11/2026), posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 mencapai USD146,8 miliar atau bertambah USD500 juta dibanding September 2026.
Baca juga: September Cadangan Devisa Turun USD200 Juta, untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah
Perkembangan posisi cadangan devisa tersebut, terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo, dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
“Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 itu, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Denny.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, ditopang aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.