Sabtu, November 7, 2026
HomeMoneterWarga RI Perbanyak Tabungan dan Tahan Belanja

Warga RI Perbanyak Tabungan dan Tahan Belanja

Survei persepsi konsumen Bank Indonesia September 2026 memang menunjukkan, dalam beberapa bulan terakhir warga RI meningkatkan konsumsi (belanja) dan mengurangi tabungan. Namun, hal itu tampaknya hanya accidental atau faktor musiman.

Secara keseluruhan, warga RI tetap lebih senang memupuk tabungan. Situasi yang mudah berubah seperti saat ini, baik di tingkat global maupun domestik, secara psikologis memang mendorong orang memperkuat pertahanan alias memperbanyak tabungan.

Orang tetap belanja, tapi dibatasi yang penting-penting saja. Belanja barang-barang tahan lama (durable goods) termasuk rumah dan kendaraan bermotor, ditahan dulu.

Khusus kendaraan bermotor memang penjualannya melonjak tahun ini, tapi itu lebih karena basis perhitungan tahun sebelumnya yang rendah. Lonjakan itu pun diperkirakan sulit untuk mencapai target minimal 850.000 unit tahun ini, apalagi 1 juta unit.

Sikap menahan diri konsumen dalam berbelanja itu, tercermin juga dari survei keyakinan konsumen Bank Indonesia tersebut.

Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini pada September 2026 menurun, juga keinginan membeli barang tahan lama yang tercermin dari Indeks Pembelian Durable Goods (IPDG).

Pada kaum menengah, menengah atas dan atas (pengeluaran Rp3,1 juta sampai di atas Rp5 juta), IPDG masih berada di level optimis (indeks >100) tapi menurun dibanding Agustus.

Sementara pada kaum bawah dan menengah bawah (pengeluaran Rp2,1-3 juta), IPDG-nya sudah berada di level pesimis (indeks <100). IPDG merupakan salah satu indikator daya beli.

Baca juga: Naik Sebentar, September Optimisme Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Sudah Turun Lagi

Data terbaru lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menguatkan apa yang diuraikan di atas. Tercermin dari simpanan alias tabungan masyarakat di perbankan nasional per September 2026 yang terus meningkat. Tumbuh 8,65 persen secara tahunan (yoy) dengan nilai menembus Rp10.513 triliun.

“Pertumbuhan tabungan itu terjadi merata di seluruh segmen saldo. Mulai dari kelompok tabungan hingga Rp100 juta sampai kelompok tabungan di atas Rp5 miliar,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta awal pekan ini.

Ia menguraikan, per September 2026 kelompok tabungan dengan nominal hingga Rp100 juta tumbuh 7,15 persen (yoy), tabungan Rp100 juta hingga Rp200 juta tumbuh 5,8 persen, tabungan Rp200 juta hingga Rp500 juta naik 4,21 persen., tabungan di atas Rp5 miliar tumbuh 11,91 persen.

“Simpanan pada kelompok tiering besar masih mendominasi dari sisi porsi, sementara simpanan dengan nominal di bawah Rp100 juta, yang mayoritas merupakan milik perorangan, mencatat perbaikan pertumbuhan dari Juni 2026 sebesar 5,55 persen (yoy) menjadi 7,06 persen (yoy) di September 2026,” jelas Anggito.

Baca juga: Ekonomi Selalu Tumbuh di Atas 5 Persen, Tapi Kenapa Penjualan Rumah Terus Menurun?

Bunga penjaminan
Pada kesempatan itu, Ketua LPS juga menyampaikan, total simpanan yang mendapatkan suku bunga dari bank di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) cenderung meningkat menjadi 36,06 persen (Rp3.791,34 triliun) dari total simpanan.

Meningkatnya porsi simpanan dengan bunga di atas TBP itu, menjadi salah satu aspek yang dicermati LPS dalam konteks persaingan penghimpunan dana oleh perbankan, dan dampaknya pada kondisi individual bank.

“LPS bersama anggota KSSK terus berupaya memperkuat sinergi, agar proporsi dan suku bunga simpanan yang mendapatkan imbal hasil di atas TBP tidak meningkat,” ujar Anggito.

LPS menetapkan TBP untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027 sebesar 3,75 persen untuk simpanan dalam rupiah di bank umum, dan 6,25 persen di BPR, serta 2 persen untuk simpanan valas di bank umum.

Berita Terkait

Ekonomi

Cadangan Devisa Kembali Meningkat, Oktober Bertambah USD500 Juta

Cadangan devisa RI terkuras sepanjang Desember 2025-Mei 2026 senilai...

Otorita IKN-Korea Selatan Gelar Nusantara Smart City Forum

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Republik Korea Selatan...

Prediksi Para Ekonom Meleset, Triwulan III Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Kamis (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi...

Berita Terkini