Minggu, November 8, 2026
HomeBerita PropertiTren Perkantoran: Penyewa Makin Cerewet, Minat Terhadap Ruang Kantor Siap Pakai Meningkat

Tren Perkantoran: Penyewa Makin Cerewet, Minat Terhadap Ruang Kantor Siap Pakai Meningkat

Hingga triwulan tiga (Q3) 2026, pasar perkantoran Jakarta belum menunjukkan perkembangan yang merata alias makin beragam.

Menurut laporan konsultan properti Colliers Indonesia melalui Jakarta Property Market Update Triwulan III 2026 yang dirilis pekan lalu, setelah beberapa tahun permintaan ruang kantor lebih banyak didorong oleh penyesuaian luas ruang dan relokasi ke gedung yang lebih baik, kini mulai terlihat perusahaan yang membutuhkan ruang tambahan seiring ekspansi bisnis.

“Ini perkembangan positif. Namun, pemulihan pasar secara keseluruhan tetap belum merata,” kata Ferry Salanto, Head of Research, Colliers Indonesia, melalui keterangan akhir pekan ini.

Karena itu, masih menjadi pertanyaan apakah ekspansi perusahaan tersebut terus berlangsung, sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan.

Colliers memperkirakan, permintaan ruang kantor sepanjang 2026 mencapai 198.555 m², didukung meningkatnya aktivitas penyewaan.

Namun, sebagian besar transaksi penyewaan masih berupa perpindahan penyewa dari satu gedung ke gedung lainnya, sehingga belum sepenuhnya menghasilkan tambahan ruang kantor yang terisi.

Sampai triwulan tiga, Colliers mencatat tingkat hunian (okupansi) gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mencapai 76,3 persen, dengan tingkat kekosongan pada akhir tahun menjadi 25,7 persen. Tingkat kekosongan itu diperkirakan akan menurun menjadi 21,1 persen pada 2029.

Gedung dengan kualitas lebih tinggi masih menunjukkan kinerja yang lebih baik, dengan rata-rata okupansi mendekati 78 persen untuk gedung grade A dan hampir 84 persen untuk gedung premium. “Bahkan, sejumlah gedung premium telah mencatat tingkat hunian di atas 90 persen,” tulis keterangan Colliers.

Kondisi ini memperkuat posisi tawar pemilik gedung dalam mempertahankan harga sewa sekaligus mengurangi insentif yang diberikan kepada penyewa.

Baca juga: Perkantoran Jakarta: Kekosongan Masih Tinggi, Tapi Ruang yang Paling Diminati Kian Terbatas

Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan yang masih tinggi harus terus bersaing melalui penyesuaian harga sewa, pemberian insentif, dan ketentuan sewa yang lebih fleksibel.

Penyewa makin cerewet
Colliers mencatat perusahaan kini makin selektif dalam memilih ruang kantor. Lokasi, kemudahan akses transportasi, dan kualitas gedung, tetap menjadi pertimbangan utama.

Namun, penyewa juga kian memperhatikan manfaat keseluruhan yang ditawarkan. Mulai dari kualitas pengelolaan gedung, penerapan prinsip ESG, kelengkapan fasilitas, kebutuhan penataan interior (fit-out), kesiapan ruang untuk digunakan, hingga total biaya yang harus dikeluarkan selama menempati kantor.

“Tren perpindahan ke gedung berkualitas lebih baik (flight-to-quality), kini mulai berkembang menjadi pertimbangan terhadap nilai manfaat yang diperoleh (flight-to-value),” jelas Colliers.

Perusahaan tidak lagi sekadar mencari gedung yang lebih baru, tapi juga mempertimbangkan apakah peningkatan kualitas gedung, kemudahan akses, dan kenyamanan serta efektivitas lingkungan kerja di gedung yang baru, sebanding dengan biaya tambahan yang mereka dikeluarkan.

Terkait perhatian terhadap efisiensi biaya itu, salah satu tren yang makin menonjol di pasar perkantoran Jakarta saat ini, adalah meningkatnya minat terhadap ruang kantor yang telah ditata, dilengkapi furnitur, dan siap digunakan.

Biaya awal untuk penataan interior kantor (fit-out) sering kali menjadi pertimbangan besar bagi perusahaan. Bahkan, ketika relokasi ke gedung yang lebih baik sebenarnya diperlukan untuk mendukung kegiatan bisnis.

Ketersediaan ruang kantor siap pakai dapat membantu perusahaan menekan biaya investasi awal, sekaligus mempercepat dimulainya kegiatan operasional.

Dengan perkembangan tersebut, pertimbangan penyewa kini mulai bergeser. Pertanyaannya bukan lagi sekadar ‘seberapa murah harga sewanya’, tapi juga ‘seberapa mudah dan efektif ruang kantor itu dapat digunakan’.

Colliers memperkirakan, pasar perkantoran Jakarta akan terus membaik bertahap hingga 2027. Namun, keberlanjutan pemulihan tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume transaksi penyewaan, tapi juga oleh sumber permintaan.

“Apakah kebutuhan ruang tambahan untuk ekspansi usaha akan makin meluas, sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan?” tulis laporan Colliers.

Baca juga: Teknologi AI dan Dampaknya untuk Sektor Perkantoran

Bagi penyewa, kondisi pasar saat ini masih memberikan kesempatan untuk melakukan relokasi, meningkatkan kualitas ruang kantor, atau menegosiasikan kembali ketentuan sewa sebelum persaingan mendapatkan ruang di gedung-gedung berkualitas semakin ketat.

Sementara bagi pemilik gedung, peluang yang tersedia akan berbeda bergantung pada kondisi properti masing-masing. Gedung premium dengan tingkat hunian tinggi, berpotensi memiliki posisi tawar yang makin kuat dalam menentukan harga sewa.

Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan yang masih tinggi, perlu meningkatkan daya saing melalui penawaran ruang kerja yang lebih menarik dan ketentuan sewa yang fleksibel.

Berita Terkait

Ekonomi

Cadangan Devisa Kembali Meningkat, Oktober Bertambah USD500 Juta

Cadangan devisa RI terkuras sepanjang Desember 2025-Mei 2026 senilai...

Otorita IKN-Korea Selatan Gelar Nusantara Smart City Forum

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Republik Korea Selatan...

Berita Terkini