Menko Airlangga: Ekonomi On the Right Track, Pemerintah Lansir Segepok Stimulus untuk Jaga Daya Beli
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar konferensi pers di Jakarta akhir pekan ini, merespon laporan BPS mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2026.
Menurut dia, fundamental ekonomi RI kuat, yang tercermin dari pertumbuhan yang mencapai 5,47 persen pada triwulan III-2026, meningkat dari 5,29 persen pada triwulan II-2026, dengan pertumbuhan kumulatif (Januari-September 2026) sebesar 5,45 persen (ctc). Pertumbuhan masih ditopang konsumsi masyarakat dan investasi, dengan share lebih dari 84 persen.
Capaian itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara anggota G20 dan ASEAN. Di G20 Indonesia hanya kalah dari India yang ekonominya tumbuh 7,8 persen pada trowulan III 2026, dan di ASEAN dari ekonomi Vietnam yang tumbuh 9,95 persen.
“Pertumbuhan ekonomi 5,47 persen itu menunjukkan, kebijakan yang diambil pemerintah dipimpin Presiden Prabowo, sudah on the right track dengan fundamental yang kuat,” kata Airlangga seperti dikutip keterangan Kemenko Perekonomian.
Meskipun senang dengan pertumbuhan tersebut, Airlangga menyebut pemerintah tetap mencermati berbagai tantangan yang dapat memengaruhi daya beli (konsumsi) masyarakat, yang merupakan penyumbang utama pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran dengan share antara 52-53 persen. Yaitu, kenaikan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah.
“Untuk itu, pemerintah terus memperkuat stabilitas harga melalui pengamanan pasokan, kelancaran distribusi, pemberian subsidi, dan penyaluran bantuan sosial agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” katanya dikutip dari keterangan Kemenko Perekonomian.
Baca juga: Prediksi Para Ekonom Meleset, Triwulan III Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi
Menko Airlangga optimis, momentum pertumbuhan ekonomi itu akan berlanjut pada Q4-2026. Mengacu pada ekspansi manufaktur yang kian tinggi, penjualan listrik yang tumbuh 9,21 persen, Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 yang tetap di zona optimis, penjualan mobil September 2026 yang tumbuh 28,1 persen, penjualan sepeda motor 15,4 persen, penyaluran kredit 13,26 persen (September 2026), konsumsi semen domestik 3,0 persen, serta inflasi Oktober 2026 yang masih di kisaran sasaran sebesar 3,23 persen (yoy), kendati penjualan eceran melempem, hanya tumbuh 1,4 persen pada September 2026.
Pemerintah memperkuat momentum itu dengan memperluas akses pembiayaan produktif bagi UMKM. Per 5 November 2026, kredit program teralisasi Rp303,9 triliun atau 92,17 persen dari plafon, kepada 4,37 juta debitur dengan penyerapan 13,13 juta tenaga kerja.
“Sebesar 68,09 persen pembiayaan disalurkan ke sektor produksi, yang menunjukkan komitmen pemerintah emperkuat sektor riil. Yang terbaru, pemerintah melansir Kredit Perempuan Pra Sejahtera (KPPS) dengan bunga flat 8 persen,” ungkap Airlangga.
Program stimulus
Untuk menjaga daya beli atau konsumsi masyarakat, pemerintah juga menyiapkan event diskon nasional seperti diskon transportasi Nataru, BINA Great Sale, dan Harbolnas.
Kemudian menyiapkan stimulus akhir tahun 2026 selama Oktober-Desember 2026. Mencakup pembukaan rekening baru dengan saldo awal Rp50 ribu bagi sekitar 25,16 juta penduduk dewasa desil 1–4, bantuan pangan 10 kg beras per bulan bagi 33,24 juta keluarga, bantuan subsidi upah Rp900 ribu bagi sekitar 13,3 juta pekerja dengan gaji maksimal Rp3,5 juta atau di bawah UMP.
Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai insentif transportasi selama libur Natar. Meliputi PPN DTP 100 persen tiket pesawat ekonomi domestik untuk 3,75 juta penumpang dengan periode penerbangan 22 Desember 2026 s.d. 10 Januari 2027, diskon 30 persen tiket kereta api untuk 1,04 juta penumpang dengan periode perjalanan 22 Desember 2026 s.d. 4 Januari 2027, kapal laut PELNI untuk 414 ribu penumpang dengan periode perjalanan 17 Desember 2026 s.d. 10 Januari 2027, tarif jasa pelabuhan gratis penyeberangan ASDP di 14 pelabuhan untuk 1,42 juta orang dengan periode perjalanan 22 Desember 2026 s.d. 10 Januari 2027.
Baca juga: Para Ekonom: Defisit Fiskal dan Inflasi Meningkat Bisa Diterima, Demi Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi
Untuk tahun depan, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi yang dikelompokkan dalam tiga fokus utama. Pertama, dari sisi ketenagakerjaan, memperkuat Program Magang Nasional bagi 150 ribu peserta yang dimulai pada April 2027), memperluas Program Vokasi Nasional menjadi 300 ribu peserta, serta meningkatkan manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan bagi korban PHK.
Kedua, dari sisi perpajakan, melansir fasilitas PPh Pasal 21 DTP bagi pekerja berpenghasilan hingga Rp10 juta per bulan, dengan rencana kenaikan batas PTKP masih dalam pembahasan, serta pembebasan PPN atas emas perhiasan berkadar 99,9 persen.
Ketiga, dari sisi perlindungan sosial dan perumahan, berupa diskon iuran JKK dan JKM sebesar 50 persen bagi pekerja bukan penerima upah, fasilitas PPN DTP 100 persen untuk pembelian rumah dengan harga jual hingga Rp2 miliar maksimal Rp 5 miliar, serta KPR bersubsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Tanggung (MBT) dengan bunga tetap 6 persen.