BI: Manufaktur Ekspansif, Tapi Serapan Tenaga Kerjanya Masih Minus
Serupa dengan S&P Global dan Kementerian Perindustrian, Bank Indonesia (BI) melaporkan pekan ini, pada triwulan III (Q3) 2026 kinerja manufaktur atau industri pengolahan meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks >50 persen).
Tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI)-BI sebesar 52,28 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi pada triwulan duag sebesar 51,43 persen.
Peningkatan PMI-BI didorong oleh komponen Volume Persediaan Barang Jadi (54,80 persen), Volume Produksi (54,31 persen), dan Volume Total Pesanan (53,34 persen), yang kesemuanya meningkat dan berada pada fase ekspansi.
Volume produksi
Volume Produksi dengan indeks 54,31 persen pada Q3, meningkat dibanding triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 53,81 persen. Peningkatan itu sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat yang terindikasi dari meningkatnya Volume Total Pesanan, dan didukung oleh ketersediaan barang pada komponen Volume Persediaan Barang Jadi.
Volume total pesanan
Volume total pesanan pada triwulan III 2026 meningkat, seperti tercermin dari indeks sebesar 53,34 persen, lebih tinggi dari indeks pada triwulan II 2026 sebesar 52,77 persen. Peningkatan volume total pesanan, didukung kecukupan barang yang tercermin dari tingginya volume persediaan barang jadi.
Volume persediaan barang jadi
Komponen ini pada triwulan III 2026 diindikasikan berada pada fase ekspansi (indeks > 50 persen), dengan indeks 54,80 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 53,00 persen. Peningkatan kinerja volume persediaan barang jadi, sejalan dengan peningkatan komponen volume produksi.
Baca juga: Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan
Kecepatan penerimaan barang input
Berbeda dengan tiga komponen di atas, komponen Kecepatan Penerimaan Barang Input pada triwulan III 2026 hanya menunjukkan perbaikan dengan indeks 48,68 persen, lebih tinggi dibandingkan 47,46 persen pada triwulan II 2026, namun masih berada pada fase kontraksi atau minus (indeks < 50 persen).
Jumlah tenaga kerja
Demikian juga komponen Jumlah Tenaga Kerja, pada triwulan III 2026 mencatatkan perbaikan dengan indeks 49,58 persen, lebih tinggi dibandingkan 48,65 persen pada triwulan II, namun belum beranjak dari zona kontraksi (indeks <50 persen).
Selama 5 tahun terakhir (sejak 2022), komponen kecepatan penerimaan barang input dan jumlah tenaga kerja versi PMI-BI, praktis selalu berada di fase kontraksi.
Penurunan kinerja komponen ini dipengaruhi oleh gangguan pada rantai pasok serta kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku/penolong akibat pandemi Covid-19, dan belakangan karena konflik di Timur Tengah.
Komponen kecepatan penerimaan barang input hanya dua kali berada di fase ekspansi selama kurun 2022-September 2025. Yaitu, pada triwulan II dan IV 2024.
Baca juga: September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi
Sedangkan komponen jumlah tenaga kerja hanya tiga kali berada di fase ekspansi selama periode yang sama. Yaitu, pada triwulan III 2022, triwulan I 2024, dan triwulan I 2025.
Sementara pada kurun waktu yang sama, PMI-BI selalu berada di fase ekspansi. Artinya, laju ekspansi industri pengolahan tidak diikuti dengan peningkatan penggunaan tenaga kerja baru.
Ini menjelaskan kenapa pengangguran terbuka menurun, namun pertambahan pekerja formal sangat sedikit. Kebanyakan pekerja terserap ke sektor informal, bukan sektor formal seperti industri pengolahan yang merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi.
Lapangan usaha
Berdasarkan sublapangan usaha (Sub-LU), PMI-BI pada sebagian besar Sub-LU berada pada fase ekspansi pada triwulan III 2026, dengan indeks tertinggi pada Industri Barang Galian Bukan Logam (55,79 persen), diikuti Industri Makanan dan Minuman (55,03 persen), Industri Logam Dasar (54,17 persen), Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik (52,63 persen), serta Industri Tekstil dan Pakaian Jadi (52,40 persen).
Baca juga: BI: Manufaktur RI Tetap Ekspansif, Triwulan III Ekspansinya Akan Meningkat
Triwulan IV
Pada triwulan IV 2026, BI memperkirakan kinerja manufaktur RI melanjutkan tren peningkatan atau ekspansi dengan indeks 52,37 persen.
Kinerja tersebut terutama didorong oleh komponen Volume Total Pesanan yang meningkat menjadi 53,62 persen, sementara Volume Produksi dan Volume Persediaan Barang Jadi tetap berada di fase ekspansi dengan indeks 54,24 persen dan 53,69 persen, meskipun sedikit turun dibanding triwulan III.
Komponen Jumlah Tenaga Kerja dan Kecepatan Penerimaan Barang Input, juga diprakirakan mengalami perbaikan pada triwulan IV 2026, namun masih berada di zona kontraksi (indeks <50 persen) dengan indeks 49,93 persen dan 49,17 persen.
Mayoritas Sub-LU diprakirakan berada pada fase ekspansi pada triwulan IV 2026, dengan indeks tertinggi pada Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (57,50 persen), diikuti Industri Barang Galian Bukan Logam (56,05 persen), serta Industri Makanan dan Minuman (54,81 persen).