OJK: Pola Konsumsi Masyarakat Bergeser, Prioritaskan Kebutuhan Pokok
Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 Oktober 2026 yang diriis,akhir pekan ini menyampaikan, sektor jasa keuangan RI tetap stabil di tengah berlanjutnya konflik geopolitik, tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Dinamika inflasi global masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, seiring eskalasi konflik geopolitik. Lonjakan inflasi di sejumlah negara seperti Jepang dan Inggris bahkan melampaui rentang target yang ditetapkan.
“Kenaikan inflasi itu telah mendorong bank sentral global melanjutkan pengetatan kebijakan moneter, dengan kecenderungan suku bunga kebijakan berlanjut di level yang tinggi hingga 2027,” tulis hasil RDKB OJK tersebut.
Di sisi lain, keterbatasan ruang fiskal, makin mempersempit kapasitas pemerintah di berbagai negara khususnya di kawasan Eropa dalam memberikan subsidi di tengah tekanan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga.
Baca juga: Warga RI Perbanyak Tabungan dan Tahan Belanja
Sejumlah negara bahkan menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal, melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah. Perkembangan tersebut turut meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gejolak secara luas di berbagai negara.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi serta gelombang instabilitas politik global, makin meningkatkan ketidakpastian sehingga mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, yang melemahkan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Selain itu, kinerja bursa saham global juga dipengaruhi oleh koreksi saham teknologi. Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara (termasuk Indonesia), terus meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
“Di sisi domestik, permintaan menunjukkan pergeseran pola konsumsi yang semakin konservatif, dengan rumah tangga memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok,” tulis laporan OJK.
Baca juga: Triwulan III Penjualan Seluruh Tipe Rumah Jeblok
Apa yang disampaikan OJK ini selaras dengan data yang dilansir Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengungkapkan, kenaikan pertumbuhan tabungan masyarakat di semua segmen per September 2026, yang mengindikasikan konsumen membatasi belanja hanya untuk kebutuhan sehari-hari di tengah situasi ekonomi politik yang membingungkan.
Apalagi, inflasi mengalami peningkatan, terutama didorong oleh kenaikan harga pangan, dengan pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil. Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid, tapi terutama didorong oleh penjualan mobil listrik.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan dengan PMI Manufaktur Oktober 2026 meningkat ke level 54 (makin ekspansif), tertinggi sejak Maret 2024 namun minim menyerap tenaga kerja baru, neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus, dan ekonomi tumbuh 5,47 persen (yoy) pada triwulan III 2026.