Januari-Juli KAI Layani 307,86 Juta Pelanggan, 78 Persen Pelanggan KRL, Ditopang Tarif Terjangkau
Sepanjang Januari–Juli 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group melayani 307.860.743 pelanggan, naik 8,32 persen dibanding Januari-Juli 2025 sebanyak 284.202.884 pelanggan.
Peningkatan tercatat pada layanan KA Jarak Jauh dan Lokal, KAI Commuter, LRT Jabodebek, KAI Wisata, KA Makassar–Parepare, KAI Bandara, serta Whoosh.
Mengutip keterangan Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba, Jumat (14/8/2026), penumpang KA Jarak Jauh dan Lokal mencapai 35.257.646 pelanggan, meningkat 7,63 persen dari 32.758.315 pelanggan pada Januari–Juli 2025.
Layanan terbesar masih dipegang KAI Commuter (KRL/commuter line) yang melayani 242.932.764 pelanggan atau sekitar 78 persen dari total penumpang selama Januari-Juli 2026, naik 6,65 persen dibanding 227.781.787 pelanggan pada periode yang sama 2025.
LRT Jabodebek mencatat pertumbuhan penumpang jauh lebih tinggi 20,96 persen, dari 15.772.638 pelanggan menjadi 19.079.347 pelanggan.
LRT Sumsel melayani 2.604.587 pelanggan sepanjang Januari–Juli 2026, menghubungkan Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Stasiun DJKA dengan melewati pusat Kota Palembang dan kawasan Jakabaring.
Pelanggan KAI Wisata bahkan tumbuh lebih tinggi lagi, mencapai 49,95 persen dari 125.945 pelanggan menjadi 188.860 pelanggan. KAI Wisata menghadirkan layanan premium Kereta Luxury, Kereta Panoramic, Kereta Istimewa dan Kereta Wisata.
KA Makassar–Parepare, kereta pertama di Sulawesi melayani 206.651 pelanggan, meningkat 13,62 persen dari 181.876 pelanggan pada Januari-Juli 2025.
KAI Bandara melayani 4.073.492 pelanggan pada Januari–Juli 2026, naik 0,20 persen dari 4.065.417 pelanggan pada Januari-Juli 2025. Sementara Whoosh melayani 3.517.396 pelanggan, meningkat 0,01 persen dari 3.516.906 pelanggan pada Januari–Juli 2025.
Baca juga: Integrasi Antarmoda Makin Kuat, Penumpang Kereta Terus Meningkat

Tarif terjangkau
Terus meningkatnya pelanggan kereta api, ditopang oleh tarif yang terjangkau. Terutama pada kereta di perkotaan atau commuterline dan LRT.
Menurut Anne, biaya transportasi menjadi salah satu pengeluaran yang melekat pada aktivitas masyarakat sehari-hari. Karena itu, keterjangkauan tarif transportasi publik memiliki dimensi ekonomi yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari.
“Ketika masyarakat memiliki akses terhadap transportasi massal dengan tarif yang terjangkau, biaya perjalanan menjadi lebih mudah direncanakan. Transportasi publik memberi masyarakat pilihan untuk mengatur pengeluaran mobilitas sekaligus tetap terhubung dengan pusat pekerjaan, pendidikan, perdagangan dan berbagai aktivitas lainnya,” katanya.
Tarif KRL Jabodetabek misalnya, hanya Rp3.000 untuk 25 km pertama, dan tambahan Rp1.000 untuk setiap 10 kilometer berikutnya.
Tarif LRT Jabodebek dimulai dari Rp5.000 berdasarkan jarak perjalanan. Pada hari kerja saat peak hour, tarif maksimal Rp20.000, sedangkan pada off-peak hour, Sabtu, Minggu dan hari libur nasional, hanya tarif maksimal hanya Rp10.000. Sementara pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO), menjaga keterjangkauan layanan kereta api jarak jauh dan lokal kelas ekonomi.
Baca juga: Penumpang Kereta Lokal Kian Bergairah, Semester I Capai 4,67 Juta, Meningkat 13,59 Persen
Sementara KAI juga menyediakan tarif reduksi bagi kelompok pelanggan yang memenuhi ketentuan, termasuk lansia dan kelompok lain sesuai kebijakan yang berlaku.
Sepanjang Januari–Juli 2026, sebanyak 1.267.255 pelanggan menggunakan tarif reduksi. Pada periode yang sama, 3.080.830 pelanggan menggunakan tarif khusus, dan 138.897 pelanggan memanfaatkan tarif diskon dan promo lainnya.
KAI secara berkala juga menghadirkan program diskon pada momentum tertentu. Sepanjang Januari–Juli 2026, nilai program diskon tarif yang tercatat mencapai sekitar Rp242,96 miliar. Terdiri atas program Januari Rp55,3 miliar, Maret Rp96,7 miliar serta Juni–Juli Rp90,96 miliar.
“Pilihan tarif menjadi penting, karena setiap pelanggan memiliki kebutuhan perjalanan dan kemampuan berbeda-beda. Ada masyarakat yang menggunakan kereta setiap hari untuk bekerja, ada yang melakukan perjalanan antarkota, ada pula yang membutuhkan tarif reduksi. Makin banyak pilihan, makin besar ruang masyarakat mengatur biaya mobilitasnya,” tutup Anne.