OCBC: Ada Peluang Positif di Tengah Ketidakpastian Pasar
OCBC Group Research merilis market outlook hingga periode semester kedua 2026 sebagaimana dikutip hari ini Kamis (13/8). Hingga bulan Juni 2026, pasar keuangan global bergerak fluktuatif dalam menghadapi kombinasi antara konflik geopolitik di Timur Tengah, perubahan ekspektasi kebijakan moneter global, serta aksi ambil untung pada sejumlah saham teknologi setelah reli kuat dalam dua bulan terakhir.
Meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sempat mendorong harga energi dan ekspektasi inflasi lebih tinggi, tercapainya kesepakatan sementara pada pertengahan Juni lalu cukup membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan menekan harga minyak Brent turun lebih dari 20 persen hingga ditutup pada kisaran level 70 dolar Amerika per barel.
Secara keseluruhan, indeks saham global menutup kuartal kedua 2026 dengan kinerja kuat. Indeks MSCI All-World naik 10.4 persen sepanjang Januari-Juni 2026, didukung reli saham kecerdasan buatan dan semikonduktor. Namun secara bulanan, momentum pasar mulai melambat akibat valuasi sektor teknologi yang semakin tinggi, kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal AI, serta meningkatnya potensi suku bunga global bertahan pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Menutup bulan Juni, bursa saham Amerika Serikat mencatat kinerja yang bervariasi, indeks S&P 500 turun sekitar 1,06 persen ke level 7.499.36 dan Nasdaq Composite melemah sekitar 2,81 persen menjadi 26.213,72. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average naik sekitar 2,52 persen dan menutup bulan pada rekor tertinggi 52.319,20.
Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan terjadinya rotasi dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menuju saham siklikal, finansial, dan industri. Kekhawatiran terhadap valuasi serta belanja AI yang sangat besar menjadi tekanan bagi Nasdaq, sementara Dow Jones memperoleh dukungan dari saham-saham yang lebih sensitif terhadap aktivitas ekonomi.
Baca juga: Optimisme Terhadap Kondisi Ekonomi Masih Terus Menurun
Meskipun melemah secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing masih membukukan kenaikan kuartalan (April-Juni 2026) sebesar 14,9 persen dan 21,4 persen, sedangkan Dow Jones naik sekitar 13 persen.
Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan perekonomian AS masih berekspansi tetapi mulai kehilangan momentum. Data ketenagakerjaan-Nonfarm payrolls Juni hanya bertambah 57 ribu pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi sekitar 110 ribu.
Tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen tetapi penurunan tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya partisipasi angkatan kerja menjadi 61,5 persen. Namun, dalam pertemuan 16-17 Juni 2026, Federal Reserve masih mempertahankan Fed Funds Rate pada kisaran 3,50-3,75 persen.
Bank sentral menilai aktivitas ekonomi masih bertumbuh dengan solid meskipun inflasi tetap berada di atas target 2 persen yang disebabkan karena kenaikan harga energi dan gangguan pasokan. Perubahan distribusi proyeksi suku bunga (dot plot) menunjukkan sebagian pejabat Fed mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun apabila tekanan inflasi kembali menguat.
Di kawasan Eropa, pasar ekuitas bergerak relatif lebih defensif selama Juni. Kawasan ini masih menghadapi dampak kenaikan biaya energi terhadap daya beli rumah tangga dan aktivitas manufaktur. Meski demikian, koreksi harga minyak menjelang akhir bulan memberikan ruang bagi perbaikan sentimen.
Pada bulan Juni, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25bp menjadi 2,25 persen. Kenaikan ini adalah yang pertama kali dalam hampir tiga tahun ditengah meningkatnya risiko inflasi melalui harga energi. Kombinasi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah menunjukkan bahwa risiko stagflasi belum sepenuhnya mereda.
Pasar saham Asia menutup Juni dengan kinerja yang bervariatif. Sepanjang Juni, Hang Seng melemah sekitar 9,14 persen seiring kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi Tiongkok, terutama konsumsi dan sektor properti. Sebaliknya, indeks CSI 300 relatif stabil dengan kenaikan sekitar 1,78 persen, didukung ekspektasi stimulus dan rotasi ke saham domestik. Antusiasme terhadap kecerdasan buatan juga turut mendukung penguatan indeks Taiwan Weighted sekitar 3,11 persen, sementara KOSPI cenderung datar setelah bergerak volatil sebelumnya.
Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami tekanan besar sepanjang Juni, dipengaruhi oleh pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, kenaikan inflasi, ketidakpastian kebijakan fiskal, serta kekhawatiran mengenai status Indonesia dalam indeks global.
Di tengah tekanan tersebut, MSCI memutuskan memperpanjang evaluasi pasar saham Indonesia hingga November 2026, dan mempertahankan status Indonesia sebagai emerging markets. Sementara S&P Global mempertahankan peringkat Indonesia di BBB.
Baca juga: OCBC Paparkan 3 Implikasi Besar Konflik Timur Tengah untuk Bisnis dan Investasi
Dari sisi ekonomi, inflasi Indonesia pada Juni naik menjadi 3,34 persen secara tahunan dari 3,08 persen pada Mei. Kenaikan biaya transportasi, harga pangan, pelemahan rupiah, dan dampak kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi menjadi sumber utama tekanan inflasi.
Neraca perdagangan Indonesia pada Mei mencatat defisit 1,61 miliar dolar dan merupakan defisit bulanan pertama sejak 2020. Secara tahunan, ekspor turun 5,73 persen sementara impor meningkat 22,16 persen disebabkan lonjakan impor minyak olahan sebesar dua kali lipat ditengah kenaikan harga energi.