Rabu, Agustus 12, 2026
HomeBerita PropertiSMF: Setiap Rp1 Triliun Investasi Sektor Perumahan Tingkatkan PDB Rp1,83 Triliun

SMF: Setiap Rp1 Triliun Investasi Sektor Perumahan Tingkatkan PDB Rp1,83 Triliun

Sektor perumahan memberikan dampak yang luas terhadap perekonomian. Berdasarkan kajian PT Sarana Multigriya Finansial (Persero/SMF) bersama konsultan, setiap investasi sebesar Rp1 triliun pada sektor perumahan, dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1,83 triliun dan menciptakan efek berganda terhadap sedikitnya 185 sektor ekonomi lainnya.

Investasi tersebut juga berpotensi berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor kesehatan serta pendidikan. Situasi ini yang membuat SMF terus memperkuat perannya di sektor pembiayaan perumahan.

Hal itu salah satunya dengan menerapkan tiga strategi utama: mendukung program pemerintah, menyediakan likuiditas bagi lembaga penyalur kredit perumahan (KPR), dan mendorong daur ulang aset atau asset recycle.

“Ketiga strategi ini akan saling melengkapi dalam membangun ekosistem pembiayaan perumahan yang berkelanjutan,” ujar Direktur Bisnis SMF Heliantopo melalui siaran pers yang dikutip Selasa (11/8).

Untuk memperkuat tiga strategi ini, SMF akan mendukung program pemerintah melalui penyediaan likuiditas untuk porsi 25 persen KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Kemudian memperkuat kapasitas lembaga penyalur kredit perumahan melalui penyediaan pembiayaan dan mendorong asset recycling melalui sekuritisasi baik dengan skema true sale maupun non-true sale.

Baca juga: Akumulasi Pembiayaan Perumahan SMF Capai Rp141,61 Triliun

Kebutuhan pembiayaan perumahan yang besar memerlukan dukungan dari berbagai sumber pendanaan dan instrumen pasar keuangan. Oleh karena itu, SMF akan terus memperluas kemitraan dengan perbankan dan lembaga keuangan serta mendorong pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan.

“Penyediaan likuiditas jangka panjang memungkinkan lembaga keuangan untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perumahan. Sementara itu sekuritisasi memungkinkan aset kredit perumahan diubah menjadi sumber likuiditas baru yang dapat kembali digunakan untuk membiayai kebutuhan perumahan masyarakat,” imbuh Heliantopo.

Penguatan peran SMF ini ditopang oleh kondisi keuangan perusahaan yang sehat. Hingga Juni 2026, total aset perusahaan mencapai Rp68,29 triliun, meningkat 21,79 persen dibandingkan posisi Juni 2025 sebesar Rp56,07 triliun. Liabilitas tercatat sebesar Rp40,35 triliun, meningkat 14,23 persen dibandingkan Juni 2025. Sementara ekuitas tumbuh 34,65 persen dibandingkan Juni 2025 menjadi Rp27,95 triliun.

Sepanjang semester satu 2026, SMF membukukan pendapatan sebesar Rp1,70 triliun, meningkat 6,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,60 triliun. Dengan pertumbuhan pendapatan yang disertai pengendalian beban, laba bersih perusahaan meningkat 33,90 persen dibandingkan Juni 2025 menjadi Rp391 miliar pada Juni 2026. Kualitas aset juga tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan net sebesar 0 persen.

Baca juga: SMF dan PNM Sudah Biaya Renovasi 25.000 Rumah untuk Tempat Usaha?

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF Bonai Subiakto mengatakan, kondisi keuangan yang sehat menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk menjalankan mandat secara berkelanjutan.

“Pelaksanaan mandat sebagai penyedia likuiditas dan alat fiskal harus ditopang oleh struktur keuangan yang sehat, sumber pendanaan yang terdiversifikasi, serta pengelolaan risiko yang disiplin. Kami terus menjaga keseimbangan antara ekspansi penyaluran, kecukupan likuiditas, kualitas aset, dan kemampuan Perseroan dalam memenuhi seluruh kewajiban keuangan secara tepat waktu,” bebernya.

SMF membukukan return on equity sebesar 3,18 persen, debt-to-equity ratio sebesar 1,75 kali, serta profit margin sebesar 22,89 persen. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan SMF dalam menjaga keseimbangan antara pelaksanaan mandat pembangunan dan penerapan prinsip kehati-hatian.

Kepercayaan terhadap kondisi keuangan dan peran strategis SMF juga tercermin dari peringkat kredit perusahaan. Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika global, pada bulan April 2026 SMF berhasil mempertahankan rating internasional BBB dengan outlook stable dari S&P Global.

Dari sisi rating domestik, SMF juga berhasil menjaga rating idAAA dari Pefindo dan AAA dari Fitch Ratings. Di sisi aspek tata kelola, penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau GCG SMF memperoleh predikat “Sangat Baik” berdasarkan penilaian BPKP.

Berita Terkait

Ekonomi

Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Sudah di Jalur yang Tepat

Kendati berbagai ekonomi mengritik kondisi ekonomi Indonesia yang hanya...

Indonesia Gandeng China Kembangkan Kawasan Industri Madura

Indonesia menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pengembangan kawasan...

BRI: SAL yang Ditempatkan di Perbankan akan Perkuat Sektor Riil

Bank BRI menyambut baik langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan...

Berita Terkini