Jumat, Oktober 2, 2026
HomeBankAlasan Emas Jadi “Store of Value”

Alasan Emas Jadi “Store of Value”

Nilai uang seiring waktu akan terus berubah. Dulu, uang Rp100 juta akan terasa besar tapi sekarang tidak lagi. Dua puluh tahun lalu uang sebesar itu mungkin sudah bisa dibelikan sebuah rumah sederhana di beberapa kota. Hari ini dengan nominal yang sama tidak akan cukup hanya untuk uang muka rumah di kota-kota besar.

Bukan hanya rumah, hal itu juga terjadi untuk biaya pendidikan, liburan, pernikahan, hingga ibadah haji. Nilai atau angka dari uang akan terus berubah dalam arti nilainya yang menurun. Inilah alasan mengapa semakin banyak orang yang mengumpulkan bukan lagi uang tapi cara menjaga nilainya.

Nilai uang tidak diam di tempat karena inflasi merupakan bagian dari siklus ekomomi yang menyebabkan harga barang dan jasa cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Akibatnya, uang yang disimpan dalam jumlah yang sama belum tentu mampu membeli barang atau jasa yang sama di masa depan.

Karena itu menyiapkan kebutuhan jangka panjang bukan hanya soal disiplin menabung tapi juga mempertimbangkan bagaimana menjaga nilai dana tersebut. Salah satu produk yang bisa diandalkan untuk itu adalah emas atau logam mulia. Emas kerap disebut pelindung nilai (store of value) karena nilainya cenderung mengikuti kenaikan harga dalam jangka panjang, meski tetap mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.

Baca juga: Sinergi Bank Muamalat-Antam Perkuat Literasi Hingga Pemasaran Logam Mulia

Sebagai gambaran ketahanan nilai emas bisa dilihat dari ilustrasi berikut: 20 tahun lalu harga emas berkisar Rp230.000-Rp250.000 per gram. 10 tahun lalu harganya Rp550.000-Rp650.000 dan pertengahan tahun ini menjadi Rp2,6 juta per gram.

Artinya, dalam rentang sekitar dua dekade harga emas telah mengalami kenaikan berkali-kali lipat. Kenaikan historis ini menjadi salah satu alasan mengapa emas sering dipilih sebagai aset untuk membantu menjaga daya beli dalam jangka panjang. Bagaimana dengan 10 atau 20 Tahun Mendatang?

Tentu tidak ada yang dapat memastikan harga emas di masa depan. Tapi dengan melihat histori penurunan nilai uang dan kenaikkan harga emas untuk periode dua dekade terakhir, pendekatan yang lebih realistis tentunya mulai membangun aset sejak dini supaya memiliki peluang yang lebih besar untuk menjaga daya beli dikaitkan dengan kenaikan biaya hidup (inflasi).

Dengan kata lain, fokusnya bukan mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan mempersiapkan kebutuhan jangka panjang. Emas dipilih karena sebagai salah satu aset yang digunakan masyarakat di berbagai negara untuk membantu menjaga nilai kekayaan ketika terjadi inflasi maupun ketidakpastian ekonomi.

Baca juga: Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Tumbuh 11 Kali Lipat

Untuk memudahkan kita memiliki emas, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Dikutip dari laman Bank Muamalat Selasa (11/8), bila kita ingin memiliki emas tapi belum memiliki dana besar, bisa melalui Solusi Emas Hijrah dari Bank Muamalat.

Produk ini memiliki skema angsuran dan tenor hingga 10 tahun sehingga tidak perlu menunggu untuk memiliki dana besar saat memulai membangun aset. Solusi ini bisa menjadi pilihan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan jangka panjang seperti biaya pendidikan anak, pernikahan anak, persiapan ibadah haji, ataupun tujuan lainnya.

Dengan memulai lebih awal kita memiliki kesempatan membangun aset secara bertahap sambil menyesuaikan angsuran dengan kemampuan finansial. Dengan produk Solusi Emas Hijrah kita dapat memulai memiliki emas secara bertahap dengan prinsip syariah.

Berita Terkait

Ekonomi

Inflasi Dekati Kisaran Sasaran, BI Bilang Masih Terkendali

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Indeks Harga Konsumen...

September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada September 2026...

Agustus Surplus Neraca Dagang RI Melonjak Jadi USD3,55 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada...

Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kembali ke zona...

Berita Terkini