Integrasi Antarmoda Makin Kuat, Penumpang Kereta Terus Meningkat
Mobilitas masyarakat di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) terus berkembang, seiring kebutuhan perjalanan yang makin beragam.
Transportasi berbasis rel hadir sebagai penghubung antarwilayah sekaligus antarmoda, sehingga perjalanan menjadi lebih terintegrasi dari titik awal hingga tujuan akhir.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group sebagai operator transportasi berbasis rel, terus memperkuat konektivitas tersebut melalui integrasi layanan kereta api antarmoda di berbagai simpul.
Kereta ringan LRT Jabodebek misalnya, terhubung langsung dengan layanan kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta Timur, menghadirkan perjalanan yang tersambung antara kawasan perkotaan dan lintas kota dengan waktu tempuh lebih efisien.
Konektivitas juga terbangun di dalam jaringan perkotaan. Stasiun LRT Cawang dan Cikoko, Jakarta Selatan, terkoneksi dengan kereta rel listrik (KRL) atau commuter line di Cawang, Jakarta Timur.
Sementara kawasan Dukuh Atas, Jakarta Selatan, menjadi simpul integrasi yang mempertemukan LRT dan KRL serta aneka moda transportasi umum lainnya (MRT, BRT/Trans Jakarta dan Trans Jabodetabek, kereta bandara) dalam satu kawasan.
Baca juga: Triwulan Satu Penumpang Kereta Wisata, KA Makassar, dan LRT Jabodebek Tumbuh Paling Tinggi
Keterhubungan ini memudahkan masyarakat berpindah moda dalam satu perjalanan yang berkelanjutan. Di sisi lain, akses menuju bandara juga makin terintegrasi.
Commuter line Bandara Soekarno-Hatta terhubung dengan KRL melalui stasiun Manggarai, BNI City, Duri, dan Batuceper. Koneksi ini membuka pilihan perjalanan menuju bandara yang lebih fleksibel dari berbagai titik di Jabodetabek.
Integrasi antarmoda yang makin kuat itu, mendorong kenaikan volume penumpang aneka moda transportasi massal tersebut.
Untuk kereta api misalnya, pada triwulan I 2026 LRT Jabodebek melayani 7.754.946 pelanggan, dibandingkan 6.351.283 pelanggan pada triwulan I 2025 atau tumbuh 22,10 persen.
Baca juga: Dari Jakarta Jalan-Jalan ke Purwakarta Naik Kereta Cuma 8.000 Perak
Pertumbuhan juga terlihat pada layanan Whoosh yang mengangkut 1.408.815 penumpang pada triwulan I 2026, meningkat dari 1.353.760 pelanggan pada triwulan I 2025 atau naik 4,07 persen.
Sementara KRL Jabodebek melayani 87.979.372 pelanggan pada triwulan I 2026, meningkat dari 82.114.334 pelanggan pada triwulan I 2025 atau tumbuh 7,14 persen. Mencermninkan kereta sebagai penopang utama mobilitas harian masyarakat di perkotaan.
Untuk layanan menuju bandara, commuter line Basoetta mencatat 634.921 pelanggan pada triwulan I 2026, naik dari 517.166 pelanggan pada triwulan I 2025 atau tumbuh 22,77 persen.
Peningkatan ini memperlihatkan semakin kuatnya peranan transportasi rel dalam mendukung perjalanan menuju bandara dabn sebaliknya.
Baca juga: Jakarta-Merak Naik Kereta Api Ongkosnya Hanya Rp11.000
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, integrasi antarmoda menjadi bagian penting dalam menghadirkan perjalanan yang lebih terhubung bagi masyarakat.
“Konektivitas yang terbangun antar layanan membuat perjalanan terasa lebih efisien. Setiap simpul transportasi saling melengkapi, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam merencanakan perjalanan,” kata Anne melalui keterangan dikutip Jumat (17/4/2026).