Sabtu, Juni 6, 2026
HomeBerita PropertiKRL Rangkasbitung Line Sangat Padat, KAI-Kemenhub Berkolaborasi Tingkatkan Kapasitasnya

KRL Rangkasbitung Line Sangat Padat, KAI-Kemenhub Berkolaborasi Tingkatkan Kapasitasnya

Mobilitas masyarakat menggunakan kereta rel listrik (KRL) di lintas Tanah Abang (Jakarta)–Rangkasbitung (Banten) atau Rangkasbitung Line (Green Line) terus meningkat.

Peningkatan itu bisa dipahami, karena KRL Green Line tersebut melalui banyak sekali kawasan permukiman dalam berbagai segmen di lintasannya. Sebagian besar populasinya bekerja atau berkegiatan di Jakarta.

Akibat peningkatan tersebut, kereta Rangkasbitung Line kian padat, terutama pada jam-jam sibuk saat berangkat dan pulang kerja.

Karena itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, menyiapkan penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan di lintas Rangkasbitung Line, sehingga rangkaian gerbongnya bisa ditambah.

KAI mencatat, volume pengguna KRL Rangkasbitung Line pada 2022 mencapai 43.317.716 orang. Kemudian melonjak menjadi 62.085.471 pelanggan pada 2023, 69.999.362 pada 2024, dan melonjak lagi menjadi 77.552.716 pada 2025. Selama Januari-Mei tahun ini penggunanya telah mencapai 33.397.420 orang.

Seiring terus meningkatnya pengguna, okupansi KRL Rangkasbitung Line pada jam sibuk juga kian padat. Saat ini menurut catatan KAi yang dikutip, Jumat (5/6/2026), okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara lintas commuter line (KRL) lainnya.

Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor-Jakarta berada pada kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang-Jakarta sekitar 140 persen.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, tingginya kepadatan penumpang Rangkasbitung Line itu, dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sarana dan infrastruktur di lintasannya.

“Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas, agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” katanya.

Baca juga: Dukung Program Perumahan, KRL Jabodetabek Diperpanjang Hingga Sukabumi, Cikampek, dan Merak

Langkah pertama yang akan dilakukan adalah, penguatan sistem Listrik Aliran Atas (LAA) pada lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.

Saat ini daya listrik pada lintas Green Line baru 3.000 volt, dibanding lintas Bogor dan Bekasi/Cikarang yang sudah 4.000 volt.

Perbedaan daya itu menyebabkan rangkaian dengan stamformasi 12 kereta, belum dapat dioperasikan di Rangkasbitung Line sehingga kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta.

KAI juga akan menambah 11 gardu traksi di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, agar bisa mendukung operasional rangkaian 12 kereta.

Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat sehingga ruang gerak pelanggan di kereta saat jam sibuk menjadi lebih baik.

Selain penguatan daya listrik, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan juga akan melakukan modernisasi sistem persinyalan.

Saat ini sebagian sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutu, yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Dalam sistem tersebut, satu blok yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta pada waktu yang sama.

Kondisi tersebut berdampak pada headway (waktu tunggu) perjalanan yang saat ini berada di kisaran 10 menit, dibanding lintas Bekasi dan Bogor yang headway-nya hanya 3 – 4 menit.

Baca juga: Penumpang KRL Jabodetabek 2025 Cetak Rekor

Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah, dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat.

Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan dan kepulangan. Dengan pilihan perjalanan yang makin banyak, distribusi pelanggan bisa lebih merata sehingga kualitas layanan secara keseluruhan meningkat.

“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang makin baik,” pungkas Bobby.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu Purbaya: Perbaikan Ekonomi Benar-Benar Terjadi, Lonjakan Penerimaan Pajak Buktinya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kinerja perekonomian Indonesia...

Wamenkeu Suahasil: Kredibilitas dan Komunikasi Pemerintah, Kunci Menjaga Kepercayaan Pasar

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan, kredibilitas dan...

Dolar AS Perkasa, Kunjungan Turis Asing Meninggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (2/6/2026), jumlah kunjungan...

Berita Terkini