Kredit Macet Pinjol Tetap Tinggi, Paylater dan Kredit Pegadaian Tumbuh Pesat. Pertanda Apa?
Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 28 Januari 2025, yang dirilis Kamis (5/2/2026), mengungkapkan, outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online (pinjol) pada Desember 2025 tetap tumbuh tinggi sebesar 25,44 persen (yoy) menjadi Rp96,62 triliun, dibanding November 2025 yang tumbuh 25,45 persen (yoy) sebesar Rp94,85 triliun.
Pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang tinggi itu, diiringi dengan tingkat risiko kredit macet secara agregat, atau tingkat wan prestasi 90 hari (TWP90), yang juga masih tinggi di posisi 4,32 persen dibanding November 2025 sebesar 4,33 persen. TWP90 pada November 2025 ini meningkat pesat dibanding Oktober dan September yang hanya 2,76 persen dan 2,82 persen.
Sementara itu, pembiayaan tunda bayar atau Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan, pada Desember 2025 juga tumbuh pesat sebesar 75,05 persen menjadi Rp11,94 persen (yoy) dibanding pertumbuhan November 2025 sebesar 68,61 persen (yoy), dengan tingkat kredit bermasalah atau NPF gross 2,73 persen, menurun dibanding NPF gross November 2025 sebesar 2,78 persen.
Baca juga: November 2025 Kredit Bermasalah Pinjol Meningkat Pesat
Sedangkan penyaluran paylater di perbankan (porsi produk hanya 0,31 persen dari outstanding kredit), per Desember 2025 tumbuh 19,32 persen (yoy) menjadi Rp26,4 triliun dibanding November 2025 sebesar 20,34 persen (yoy), dengan jumlah rekening mencapai 31,21 juta, menurun dibanding November 2025 sebanyak 31,47 juta.
Pada periode yang sama, menurut hasil RDKB OJK, penyaluran pembiayaan pegadaian tumbuh 48,06 persen (yoy) menjadi Rp130,37 triliun, meningkat dibanding pertumbuhan November 2025 sebesar 42,88 persen (yoy), dengan tingkat risiko kredit yang terjaga.
Pembiayaan terbesar pergadaian disalurkan dalam bentuk produk Gadai, yaitu sebesar Rp118,73 triliun atau 91,11 persen dari total pembiayaan yang disalurkan industri pergadaian.
Para pengamat menyatakan, penyaluran pinjol yang terus meningkat, namun dengan kredit macet yang naik tinggi, ditambah penyaluran paylater dan pegadaian yang tumbuh pesat, mengindikasikan daya beli atau konsumsi masyarakat yang payah, karena tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai. Daya beli yang lemah itu, tergambar juga dari penyaluran kredit UMKM yang terus merosot hingga minus (terkontraksi).