Sabtu, Maret 7, 2026
HomeNewsLuar NegeriBayar Utang dan Perkuat Rupiah, Cadangan Devisa Terpangkas Rp45 Triliun

Bayar Utang dan Perkuat Rupiah, Cadangan Devisa Terpangkas Rp45 Triliun

Bank Indonesia (BI) melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso melaporkan, Jumat (6/3/2026), cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terpangkas USD2,7 miliar (sekitar Rp45 triliun dengan kurs Rp16.800) menjadi USD151,9 miliar, dibanding Januari 2026 sebesar USD154,6 miliar.

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meninggi.

Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak sepekan lalu, telah membuat nilai rupiah melorot mendekati Rp17.000 per USD, setelah sepekan sebelumnya menguat ke level Rp16.700.

Para investor menarik dananya dari negara-negara emerging market seperti Indonesia, untuk dipindahkan ke safe haven seperti dolar AS, mengantisipasi dampak negatif perang tersebut terhadap kondisi ekonomi dan investasi global. Salah satu risiko besar dari perang itu adalah kenaikan harga minyak bumi.

Baca juga: Bayar Utang dan Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa RI Berkurang Hampir USD2 Miliar

Cadangan devisa RI mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Maret 2025 sebesar USD157,1 miliar. Kemudian melorot lagi menjadi USD148,7 miliar pada September 2025, dan meningkat kembali menjadi USD150,1 miliar pada November 2025, sebelum melonjak USD6,4 miliar (sekitar Rp107 triliun dengan kurs Rp16.800/USD) menjadi USD156,5 miliar pada Desember 2025, dan turun lagi menjadi USD154,6 miliar pada Januari 2026.

Menurut BI, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor, atau 5,9 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai, cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik. Didukung posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Berita Terkait

Ekonomi

Setahun Kegiatan Usaha Bullion, Pegadaian Kelola 147,8 Ton Emas, BSI 22,5 Ton

Pemerintah bersama pemangku kepentingan dalam ekosistem bullion, memperingati satu...

Berita Terkini