Kredit Macet Pinjol Naik Tinggi Dekati 5 Persen
Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis, Selasa (5/10/2026), mengungkapkan, per Agustus 2026 baki debet kredit BNPL atau paylater di perbankan sebagaimana yang dilaporkan dalam SLIK mencapai Rp31,41 triliun.
Jumlah itu hanya 0,34 persen dibandingkan total kredit perbankan, namun tumbuh tinggi sebesar 29,10 persen (yoy), dibanding 31,22 persen (yoy) pada Juli 2026, dengan jumlah rekening mencapai 34 juta dibanding Juli 2026 sebanyak 33,50 juta.
Sementara itu, masih berdasarkan informasi pada SLIK, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh Perusahaan Pembiayaan tumbuh 36,57 persen (yoy) dibanding 54,65 persen (yoy) pada Juli 2026, menjadi Rp13,61 triliun dengan NPF gross 3,03 persen atau stabil dibanding Juli 2026 sebesar 3,03 persen juga.
Pada industri pinjaman daring atau pinjaman online (pindar/pinjol), outstanding pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 22,07 persen (yoy) dibanding Juli 2026 sebesar 24,76 persen (yoy), dengan nominal sebesar Rp106,94 triliun.
Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) pinjol pada Agustus 2026 tercatat di posisi 4,73 persen, atau meningkat makin tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. TWP90 4,73 persen itu mendekati batas atas toleransi kredit bermasalah pinjol sebesar 5 persen.
Baca juga: Kredit Bermasalah Paylater Kian Meningkat, Kredit Macet Pinjol Masih Tinggi, Gadai Barang Moncer
Sebagai perbandingan, pada Juli 2026 TWP90 pinjol tercatat sebesar 4,32 persen, Juni 4,26 persen, dan Mei 4,42 persen.
Sementara pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 44,60 persen (yoy), dibanding Juli 2026 sebesar 50,73 persen (yoy) menjadi Rp156,61 triliun, dengan pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk gadai sebesar Rp132,84 triliun atau 84,82 persen dari total pembiayaan.
Sebaliknya pada industri lembaga keuangan mikro, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 terkontraksi (minus) 0,33 persen (yoy) dibanding -0,40 persen (yoy) pada Juli 2026 menjadi Rp1,05 triliun.