Senin, Oktober 12, 2026
HomeNewsEkonomiKonsumen Makin Banyak Belanja, Tabungan Kian Berkurang

Konsumen Makin Banyak Belanja, Tabungan Kian Berkurang

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan ini mengungkapkan, pada September 2026 rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 74,9 persen, meningkat dibandingkan proporsi Agustus 2026 sebesar 74,2 persen dan Juli 2026 sebesar 72,7 persen.

Bersamaan dengan peningkatan belanja, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) terus menurun. Yaitu, sebesar 15,4 persen dibanding 15,8 persen pada Agustus 2026 dan 16,8 persen pada Juli 2026.

Sedangkan proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) pada September 2025 tercatat sebesar 9,7 persen, relatif stabil dibandingkan proporsi pada Agustus 2026 sebesar 10 persen dan Juli 2026 sebesar 10,5 persen.

Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada seluruh kelompok pengeluaran, kecuali pada kaum bawah (pengeluaran Rp1-2 juta) yang mengalami sedikit penurunan menjadi 77,2 persen.

Sementara porsi pendapatan yang ditabung, mengalami penurunan pada sebagian besar kelompok pengeluaran, kecuali kaum bawah yang stabil rasionya di angka 15,1 persen.

Penurunan porsi pendapatan yang ditabung terbesar terjadi pada kaum menengah atas (pengeluaran Rp4,1-5 juta) dari 16,2 persen menjadi 15,1 persen, diikuti kaum atas (pengeluaran >Rp5 juta), kaum menengah (pengeluaran Rp3,1-4 juta) dan kaum menengah bawah (pengeluaran Rp2,1-3 juta) dengan persentase penurunan jauh lebih kecil.

Baca juga: Konsumen Tingkatkan Belanja, Kurangi Tabungan. Akankah Berlanjut?

Para ekonom memang berharap peningkatan konsumsi masyarakat itu berlanjut, guna menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Konsumsi masyarakat adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan share 53 persen (dari sisi pengeliaran.)

Untuk itu pemerintah didesak menelurkan kebijakan yang pro pembukaan lapangan kerja formal sebanyak-banyaknya.

Secara umum, hanya lapangan kerja formal yang memungkinkan masyarakat mendapatkan penghasilan yang lebih baik, yang selanjutnya diharapkan meningkatkan konsumsi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengangguran terbuka memang menurun seperti dilaporkan BPS, namun kebanyakan tenaga kerja terserap di sektor informal. Sementara sektor formal hanya mampu mmembuka sedikit lapangan kerja.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Penerimaan Negara On Track, Tapi Harus Ditingkatkan untuk Menutup Subsidi BBM

Hingga 30 September 2026 realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.341,5...

Menkeu: Hingga Triwulan III Kinerja Fiskal Terjaga, APBN Kredibel

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga...

Agustus-September Penjualan Eceran Meningkat

Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia Agustus 2026 yang...

Berita Terkini