Kamis, Oktober 15, 2026
HomeNewsLuar NegeriUtang Luar Negeri (ULN) RI Tumbuh Makin Tinggi, Tapi ULN Pemerintah Stabil

Utang Luar Negeri (ULN) RI Tumbuh Makin Tinggi, Tapi ULN Pemerintah Stabil

Bank Indonesia (BI) melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso melaporkan, Kamis (15/10/2026), utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar USD459,3 miliar, atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan (yoy). Lebih tinggi dibanding pertumbuhan ULN Juli 2026 sebesar 4,9 persen (yoy).

Peningkatan ULN RI itu dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral (BI), di tengah ULN swasta yang masih terus terkontraksi (minus)

Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2026 tercatat sebesar USD220,9 miliar, tumbuh 3,3 persen (yoy) atau relatif stabil dibanding Juli 2026 yang tumbuh 3,2 persen (yoy).

Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

Menurut BI, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk pembiayaan berbagai sektor ekonomi. Antara lain untuk mendukung sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,7 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,4 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

Baca juga: Utang Luar Negeri RI Terus Meningkat, Disumbang Utang Pemerintah dan BI, Utang Swasta Masih Terkontraksi

Sedangkan peningkatan ULN bank sentral (dari USD41 miliaran pada Juli 2026 menjadi sekitar USD42,8 miliar pada Agustus 2026), terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen (asing) pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara ULN swasta pada Agustus 2026 tercatat sebesar USD195,6 miliar, alias masih terkontraksi (minus) 0,8 persen (yoy), dibanding -1,2 persen pada Juli 2026.

Perkembangan tersebut didorong penurunan ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations), yang masing-masing mengalami kontraksi 0,8 persen (yoy) dan 0,6 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,5 persen dari total ULN swasta.

Baca juga: Asing Ramai-Ramai Lepas SBN, Utang Luar Negeri RI Susut Rp132 Triliun, Rasio Utang Menurun

BI mengklaim, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30,9 persen pada Agustus 2026, dan didominasi ULN jangka panjang.

“Sejalan dengan itu, posisi ULN pemerintah juga tetap sehat. Tercermin pada hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang. ULN swasta juga didominasi utang jangka panjang,” kata Ramdan.

BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan dan pengelolaan ULN, sehingga optimal dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Berita Terkait

Ekonomi

Otorita IKN Teken Perjanjian dengan Dunia Usaha Senilai Triliunan

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menandatangani Perjanjian Kerja Sama...

MotoGP Mandalika 2026 Perkuat Sport Tourism

Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP Mandalika 2026)...

Konsumen Makin Banyak Belanja, Tabungan Kian Berkurang

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan ini mengungkapkan,...

Menkeu: Penerimaan Negara On Track, Tapi Harus Ditingkatkan untuk Menutup Subsidi BBM

Hingga 30 September 2026 realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.341,5...

Berita Terkini