Rabu, Januari 21, 2026
HomeBerita PropertiTotok Usung Program Subsidi Perumahan yang Rasional

Totok Usung Program Subsidi Perumahan yang Rasional

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida menyebut akan terus mendorong pemerintah merealisasikan program-program perumahan yang lebih rasional dan mengena langsung ke konsumen dan developer. Salah satu alasannya, untuk menyiasati anggaran perumahan yang sangat kecil dibandingkan kebutuhan hunian yang sangat besar sehingga program apapun harus betul-betul tepat guna.

“Misalnya program KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP),  tidak perlu subsidinya mencapai 20 tahun, cukup 5-7 tahun. Jadi, anggaran yang ada bisa dinikmati oleh lebih banyak orang miskin. Apalagi, rata-rata debitur rumah bersubsidi setelah 5-10 tahun berjalan kreditnya, biasanya melunasinya. Jadi, tenor subsidi 20 tahun itu harus ditinjau ulang,” katanya kepada housingestate.id di Jakarta, Senin (18/11/2020).

Besaran subsidi bunga juga harus diatur supaya lebih maksimal bagi penerima manfaat subsidi dalam hal ini masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Misalnya, untuk kategori MBR berpenghasilan maksimal Rp4 juta/bulan, diberikan subsidi paling besar sehingga bisa menikmati bunga KPR 5 persen/tahun. Untuk yang bergaji maksimal Rp7 juta/bulan, bunga yang dikenakan bisa tujuh persen per tahun.

Kalau anggaran terbatas, maka harus diperbanyak ide, terobosan, dan pola-pola yang kreatif sehingga bisa memaksimalkan anggaran. Jadi, pendekatannya harus fungsional dan efisien. REI sendiri kerap membuat daftar usulan untuk pemerintah untuk makin mempermudah pengadaan perumahan rakyat khususnya untuk kalangan MBR.

Ditambah diskusi dengan berbagai pihak termasuk dengan Komisi V DPR yang membidangi perumahan, cukup banyak ide dan usulan-usulan yang secara aktif terus disampaikan. Saat ini Totok juga tengah bertarung memperebutkan kursi ketua umum REI untuk periode 2019-2022.

“Anggota REI itu 80 persen pengembang menengah ke bawah, hanya sekitar 10 persen yang dikategorikan kelas atas. Tapi, secara omset yang 80 persen ini sama dengan yang 10 persen. Makanya kalau saya nanti terpilih jadi ketua umum, saya akan memaksimalkan kiprah seluruh anggota dengan tindakan-tindakan yang konkrit. Saya akan membuat divisi-divisi supaya realisasi bisnis di semua segmen bisa terasa,” bebernya.

Berita Terkait

Ekonomi

Kinerja Manufaktur 2025 Jalan di Tempat, Penyerapan Tenaga Kerja Masih Payah

Industri pengolahan atau manufaktur adalah penopang terbesar pertumbuhan ekonomi...

Kadin Optimistis Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar forum diskusi...

Harga Saham Bank BJB Menguat, Cerminkan Stabilitas dan Keyakinan Pasar

Memasuki awal tahun 2026, saham bank bjb menunjukkan momentum...

Berita Terkini