Senin, Januari 5, 2026
HomeBerita PropertiAwal Tahun Sudah Ada Potensi Demand FLPP 76.598 Unit

Awal Tahun Sudah Ada Potensi Demand FLPP 76.598 Unit

Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat, pada awal 2026 sudah ada potensi demand (permintaan) rumah subsidi yang dibiayai dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FL)) sebanyak 76.598 unit.

Hal itu diungkapkan Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho dalam laporannya saat penandatanganan perjanjian kerjasama penyaluran KPR FLPP antara BP Tapera dan 43 bank di Jakarta akhir tahun lalu.

Menurut Heru, potensi permintaan terhadap program perumahan subsidi cukup besar. Hal itu tercermin antara lain dari realisasi penyaluran FLPP 2025 yang hampir mencapai 280.000 unit, tertinggi sepanjang 10 tahun penyaluran subsidi perumahan tersebut.

“Akhir tahun ini (2025) terdapat potensi demand KPR FLPP sebanyak 76.598 calon debitur, yang saat ini berada dalam proses pemberkasan, menunggu keputusan kredit dan ketersediaan rumah siap huni,” kata Heru.

Rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) baru bisa dijual dan mendapatkan KPR FLPP bila sudah jadi dan siap huni.

Potensi demand KPR FLPP 76.598 unit itu didapat dari pengajuan calon debitur di aplikasi SiKasep sepanjang 2025 sebanyak 347.583 unit, dikurangi realisasi sebanyak 270.985 unit.

Baca juga: Fix Realisasi FLPP 2025 Capai 278.868 Unit. Seluruhnya untuk Rumah Tapak, Rusun Hanya 3 Unit

Heru menyatakan, bersamaan dengan potensi demand itu, juga terdapat potensi suplai rumah subsidi dari developer dengan jumlah sedikit lebih kecil daripada potensi demand.

Yaitu, sebanyak 72.262 unit yang sedang dan telah dibangun. Rinciannya, sebanyak 26.929 unit berupa kaveling proses bank, 38.341 unit kaveling ready stock, dan 6.991 unit kaveling pembangunan.

“Suplai yang kurang ini karena berbagai sebab termasuk cuaca dan ketersediaan lahan, juga jadi kendala pencapaian FLPP lebih besar. Karena itu perlu menjadi perhatian semua pemangku kepentingan, supaya kita bisa memenuhi potensi permintaan rumah subsidi yang besar ini,” ujar Heru.

Dengan belum bisanya dilakukan akad kredit terhadap 70-an ribu rumah MBR itu sampai akhir 2025, potensi demand dan suplainya otomatis beralih ke awal tahun ini. Pembangunan rumah subsidi lazimnya memakan waktu 3-4 bulan hingga siap huni.

Baca juga: Menteri PKP: Tahun Depan Target Penyaluran FLPP Harus Tercapai

Heru menambahkan, perlu strategi keberlanjutan agar capaian FLPP dapat terus meningkat di masa-masa mendatang, sehingga makin signifikan dalam mendukung pencapaian program tiga juta rumah.

Salah satunya, melalui perluasan cakupan dan fleksibilitas skema FLPP, tidak hanya untuk pembelian rumah tapak, tapi juga untuk pembangunan rumah (Kredit Bangun Rumah/KBR) dan renovasi rumah menjadi layak huni (Kredit Renovasi Rumah/KRR).

Berita Terkait

Ekonomi

Industri Otomotif Melempem, Indeks Kepercayaan Industri Melemah

Sama seperti PMI (Purchasing Managers' Index) Manufaktur versi S&P...

Penghujung 2025 Manufaktur RI Mengendur

Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global, Jumat...

2025 Berakhir, PHEI Rilis Kinerja Pasar Surat Utang

PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) merilis laporan Tinjauan...

Modal Asing Tetap Ramai Masuk di Ujung 2025, Rupiah Pun Menguat

Tetap ramainya arus masuk modal asing portofolio di penghujung...

Berita Terkini