Penghujung Tahun, Konsumen Kurangi Konsumsi, Perbanyak Tabungan
Menjelang berakhirnya tahun 2025 yang dihiasi cerita penurunan daya beli, dengan prospek ekonomi 2026 yang belum cukup memberikan rasa percaya diri, membuat konsumen menahan belanja dan memperbanyak tabungan.
Kalaupun libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 terlihat ramai, sebagian karena memanfaatkan program diskon dan stimulus yang diberikan pemerintah bersama para peritel dan penyelenggara angkutan. Sikap menahan diri konsumen itu tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia yang dirilis pekan lalu.
Menurut survei tersebut, pada Desember 2025 rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai untuk konsumsi (average propensity to consume ratio), dan proporsi pembayaran cicilan/utang (debt to income ratio), masing-masing tercatat 74,3 persen dan 10,8 persen. Sedikit menurun dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 74,6 dan 11 persen.
Sementara proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio), selama periode yang sama meningkat dari 14,4 persen menjadi 14,9 persen.
Baca juga: Optimis Kondisi Ekonomi Lebih Baik, Tapi Konsumen Kurangi Belanja dan Perbesar Tabungan
Proporsi konsumsi terhadap pendapatan menurun pada 4 kelompok pengeluaran. Paling dalam pada kaum menengah atas (pengeluaran Rp4,1-5 juta) daru 73,8 persen menjadi 70,9 persen.
Diikuti kaum atas (pengeluaran >Rp5 juta) dari 71,4 menjadi 70,8 persen, kaum menengah (pengeluaran Rp3,1-4 juta) daru 73,8 menjadi 73,2 persen, dan kaum menengah bawah (pengeluaran Rp2,1-3 juta) dari 75 menjadi 74,6 persen.
Sementara kaum bawah (pengeluaran Rp1-2 juta) meningkat konsumsinya menjadi 77,3 persen dibanding 76,5 persen pada November 2025.
Sebaliknya rasio tabungan, meningkat pada seluruh kelompok pengeluaran. Tertinggi pada kaum menengah dari 14,3 menjadi 15,5 persen.
Diikuti kaum menengah atas dari 14,6 menjadi 15,7 persen, kaum atas dari 15,9 menjadi 16,4 persen, kaum bawah dari 13,9 menjadi 14,2 persen, dan kaum menengah bawah dari 14,5 menjadi 14,6 persen.