Rabu, Februari 4, 2026
HomeBerita PropertiIFFINA+ Integrasikan Empat Pameran: Material, Manufaktur, Furnitur, Interior Jadi Satu Ekosistem

IFFINA+ Integrasikan Empat Pameran: Material, Manufaktur, Furnitur, Interior Jadi Satu Ekosistem

Industri mebel dan furnitur Indonesia memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional sekaligus peluang ekspansi yang masih sangat luas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, pada tahun 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen yang menegaskan peran furnitur sebagai industri bernilai tambah dan berorientasi ekspor.

Namun di tengah pasar furnitur global yang bernilai ratusan miliar dollar Amerika per tahun, pangsa Indonesia masih berada di bawah satu persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama industri furnitur nasional bukan terletak pada potensi melainkan pada konektivitas rantai nilai mulai dari material, teknologi produksi, hingga akses langsung ke pasar internasional.

Akses ke pasar utama seperti Amerika, Eropa, dan Asia Timur yang telah terbentuk tapi di sisi lain masih memerlukan penguatan dari sisi standardisasi, inovasi, efisiensi produksi, dan integrasi antar segmen industri termasuk keterlibatan desainer dan pelaku kreatif dalam proses hulu ke hilir.

Dalam konteks inilah pameran internasional berperan sebagai platform utama bagi Indonesia untuk memperluas akses ke pasar Asia Tenggara dan global dan karenanya pameran tidak lagi sekadar etalase produk tetapi menjadi ruang pertemuan antara desain, teknologi, dan pasar. Pameran juga untuk mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional, mitra material, serta jaringan distribusi global dalam satu ekosistem yang saling terhubung dan lintas negara.

Baca juga: Catat, 5-8 Maret Produk Furnitur “Beyond Comfort Visual” Ada di ICE BSD

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama yang mencakup sektor material, manufaktur, furnitur, dan interior ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir.

Dikutip dari siaran pers yang ditermia redaksi Selasa (03/02), tahun 2026 ini akan dimulai rangkaian pameran secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor dan 15.000 pengunjung serta partisipasi dari lebih dari 20 negara.

Negara yang akan berpartisipasi diantaranya Australia, Canada, China, Denmark, Finland, France, Gabon, Germany, Hong Kong, Indonesia, India, Italy, Malaysia, Singapore, Slovenia, South Korea, Sri Lanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turkey, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Banyaknya negara yang ikut serta tentunya mencerminkan skala dan keberagaman ekosistem desain dan industri yang dibangun.

Secara keseluruhan, inisiatif ini diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, sebuah platform industri terpadu yang menghubungkan material, proses produksi, dan desain dalam satu ekosistem, sekaligus menjembatani kebutuhan pasar domestik dan internasional termasuk ruang bagi pelaku kreatif dan UMKM.

“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem yang terkoordinasi, pendekatan ini tentunya akan membuka ruang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dann pasar,” ujar Mathias Kupper, Managing Director & Regional President Asia Pacific Koinmesse Pte Ltd.

Sebagai bagian dari penyelarasan ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH secara bersama mengelola IFFINA+, interzum Jakarta, dan International Hardware Fair Indonesia serta bergabung bersama Wakeni dalam penyelenggaraan IFMAC WOODMAC yang akan diselenggarakan beriringan.

Baca juga: Bersatunya Pameran Furnitur-Desain-Hardware, Dikonsep Hulu-Hilir

Integrasi ini memungkinkan desainer, produsen, dan brand mengakses seluruh rantai nilai furnitur dalam satu pekan industri yang terkurasi dengan sekitar 50 persen partisipasi pelaku UMKM pada IFFINA.

Menurut Ketua ASMINDO Dedy Rochimat, penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini dan untuk mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Keberhasilan memperkuat ekosistem furnitur masa depan juga bertumpu pada kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, dan investor. Pendekatan ini untuk memastikan desain dan inovasi bisa diimplementasikan secara berkelanjutan di sepanjang rantai nilai industri,” katanya. ASMINDO sebagai kolaborator industri yang terlibat aktif dalam ekosistem IFFINA+.

Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect juga menjadi ruang pertukaran ide, pengetahuan, dan inovasi melalui program diskusi, business matching, dan forum terkurasi. Melalui ekosistem pameran yang terintegrasi, inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat jaringan kreatif dan industri serta mendorong lahirnya solusi desain yang relevan dengan cara hidup, ruang, dan kebutuhan pasar masa kini.

Berita Terkait

Ekonomi

Purbaya: Ekonomi Indonesia akan Tumbuh Hingga 8 Persen Selama Saya Masih Menjabat

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan optimisme pemerintah,...

Januari Kepercayaan Industri Cetak Rekor Tertinggi, Produksi Melonjak

Industri pengolahan atau manufaktur nasional mengawali tahun 2026 dengan...

PHEI Luncurkan Sukuk BI untuk Jadi Acuan Pelaku Pasar

PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) secara resmi meluncurkan...

Desember 2025 Neraca Dagang Indonesia Tetap Surplus Kendati Sedikit Menurun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/2/2026), ekspor Indonesia...

Berita Terkini