Sebulan Cadangan Devisa Terkuras Rp63 Triliun untuk Jaga Rupiah
Bank Indonesia melaporkan, Rabu (8/4/2026), cadangan devisa RI per akhir Maret 2026 merosot USD3,7 miliar (sekitar Rp63 triliun dengan kurs Rp17.000) menjadi USD148,2 miliar, dari posisi sebelumnya sebesar USD151,9 miliar.
Mengutip keterangan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso, penurunan cadang devisa itu, dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah, (penurunan) penerimaan pajak dan jasa, pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
“Kebijakan stabilisasi tersebut merupakan respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat,” kata Denny.
Baca juga: Bayar Utang dan Perkuat Rupiah, Cadangan Devisa Terpangkas Rp45 Triliun
Ia menyebutkan, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 itu, setara dengan pembiayaan 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Cadangan devisa RI terus menurun sejak Januari 2026, setelah melonjak pada Desember 2025 menjadi USD156,5 miliar dari November 2025 sebesar USD150,1 miliar.
Pada akhir Januari 2026 cadangan devisa menurun hampir USD2 miliar, dan berkurang lagi USD2,7 miliar pada akhir Februari, dan terpangkas makin besar USD3,7 miliar pada Maret 2026.
Selain karena pembayaran utang luar negeri pemerintah, penurunan cadangan devisa 3 bulan berturut-turut itu, dipengaruhi oleh upaya BI menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi (melepas dolar AS) di pasar..
Baca juga: Bayar Utang dan Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa RI Berkurang Hampir USD2 Miliar
Kendati terus menurun, Bank Indonesia menyebut cadangan devisa akhir Maret 2026 itu, mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik. Didukung aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional, dan imbal hasil investasi yang tetap menarik, selain karena cadangan devisa yang memadai,” tulis laporan BI tersebut.