Triwulan III Kinerja Kegiatan Usaha Masih Terjaga Kendati Menurun
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia triwulan III 2026 yang dirilis, Senin (19/10/2026), mengindikasikan kinerja kegiatan usaha tetap terjaga.
Tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha triwulan III 2026 sebesar 11,46 persen, meski lebih rendah dari 12,97 persen pada triwulan II 2026.
Kinerja sejumlah lapangan usaha (LU) tercatat meningkat. Antara lain industri pengolahan (SBT 1,53 persen), administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (SBT 1,09 persen), pengadaan listrik dan gas (SBT 0,69 persen), konstruksi (SBT 0,92 persen), dan real estat (0,34 persen).
Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas kegiatan usaha, berlanjutnya pembangunan sejumlah proyek termasuk proyek strategis nasional, pembangunan dan penguatan jaringan listrik, dan realisasi anggaran pemerintah.
Sementara beberapa LU tetap tumbuh tapi termoderasi, seperti transportasi dan pergudangan (SBT 0,40 persen), informasi dan komunikasi (0,57 persen), dan penyediaan akomodasi dan makan minum (SBT 0,37 persen).
Investasi
Sementara realisasi investasi terindikasi meningkat pada triwulan III 2026. Tercermin dari SBT Investasi triwulan III 2026 sebesar 6,23 persen, lebih tinggi dari SBT 5,46 persen pada triwulan II 2026.
Berdasarkan LU, pertumbuhan investasi bersumber dari sektor informasi dan komunikasi (SBT 0,50 persen), diikuti konstruksi (SBT 0,53 persen), serta pengadaan listrik dan gas (SBT 0,37 persen), sejalan dengan pengembangan sistem, jaringan infrastruktur telekomunikasi dan serat optik, berlanjutnya pembangunan sejumlah proyek termasuk proyek strategis nasional, pembangunan dan penguatan jaringan listrik.
Baca juga: Q2 Kegiatan Usaha dan Investasi Meningkat, Tapi Penggunaan Tenaga Kerja Menurun
Responden memprakirakan, investasi pada triwulan IV 2026 tetap kuat dengan SBT 5,64 persen.
Bersumber dari industri pengolahan (SBT 0,98 persen), sejalan dengan pembangunan pabrik/gudang/cold storage, pembelian/pemeliharaan pabrik/mesin/sarana dan prasarana, serta jasa pendidikan (SBT 0,33 persen), sejalan dengan pembangunan gedung sekolah/sarana dan prasarana serta infrastruktur konektivitas dan digital di sekolah.
Meski demikian, terdapat perlambatan investasi pada LU informasi dan komunikasi (SBT 0,20 persen), disebabkan oleh telah selesainya beberapa proyek jaringan seluler dan fiber optik.
Kapasitas produksi
Kapasitas produksi terpakai pada triwulan III 2026 tetap terjaga. Tercermin dari kapasitas produksi terpakai triwulan III 2026 sebesar 73,75 persen, sedikit menurun dibandingkan 73,80 persen pada triwulan II 2026.
Perkembangan kapasitas produksi ditopang oleh mayoritas LU. Yaitu, pengadaan listrik dan gas (80,89 persen), pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang (74,43 persen), pertambangan dan penggalian (70,87 persen), dan industri pengolahan (70,80 persen), sejalan dengan aktivitas usahanya.
Sementara kapsitas produksi terpakai sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terindikasi lebih rendah sebesar 71,77 persen dari 73,16 persen pada triwulan II 2026, sejalan dengan kegiatan usahanya.
Baca juga: Banyak Persekongkolan, Indeks Persaingan Usaha Konstruksi Sektor Perumahan Selalu Rendah
Tetap tumbuh
Pada triwulan IV 2026 responden memprakirakan kegiatan usaha tetap tumbuh positif dengan SBT 10,77 persen, meski lebih rendah dibandingkan SBT 11,46 persen pada triwulan III 2026.
Kinerja kegiatan usaha yang diprakirakan meningkat antara lain bersumber dari sektor transportasi dan pergudangan
(SBT 1,10 persen), informasi dan komunikasi (SBT 0,83 persen), sejalan dengan perluasan layanan telekomunikasi dan internet.
Kemudian sektor real estat (SBT 0,54 persen), jasa perusahaan (SBT 0,40 persen), serta perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan motor (SBT 1,21 persen), sejalan dengan peningkatan aktivitas saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan libur akhir tahun.
Sementara itu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT -0,58 persen), diprakirakan menjadi LU satusatunya yang turun sehingga menahan pertumbuhan kegiatan usaha lebih lanjut, karena masuknya musim tanam dan faktor cuaca.