Rabu, Januari 7, 2026
HomeUncategorizedFilosofi “Touch This Earth Lightly” untuk Penerapan Arsitektur di Asia Tenggara

Filosofi “Touch This Earth Lightly” untuk Penerapan Arsitektur di Asia Tenggara

Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur Asia Tenggara yang kian agresif mengejar pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana kita membangun tanpa merusak? Bagaimana arsitektur modern tetap menghormati identitas lokal sekaligus tangguh menghadapi krisis iklim?

Terkait hal ini ada filosofi sederhana: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi dengan lembut. Prinsip ini diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi dunia arsitektur.

Filosofi ini menjadi kompas bagi pergerakan arsitektur berkelanjutan di kawasan ASEAN. Murcutt menegaskan bahwa bangunan yang baik bukan yang mendominasi alam melainkan yang beradaptasi dengannya, menghormati budaya lokal, dan meninggalkan jejak karbon seminim mungkin.

Baca juga: Upaya BlueScope Ciptakan Arsitektur Efisien, Estetis, dan Berkelanjutan

Asia Tenggara saat ini tengah berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, kawasan ini mengalami proses urbanisasi tercepat di dunia dengan proyeksi ratusan juta penduduk kota pada 2030. Di sisi lain, wilayah ini juga paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut hingga gelombang panas ekstrem.

Kondisi ini menuntut pendekatan arsitektur yang tidak lagi bisa mengandalkan pola lama build–demolish–rebuild. Diperlukan material dan desain yang tidak hanya estetik, tetapi juga adaptif, tahan lama, dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, evolusi teknologi material, termasuk baja modern, mulai memainkan peran penting.

Filosofi “Touch this earth lightly” bukan sekadar wacana normatif. Prinsip ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam simposium arsitektur ASEAN di Jakarta akhir November lalu. Dalam forum tersebut, Arsitek Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia membedah bagaimana filosofi tersebut bisa diterjemahkan secara kontekstual di Asia Tenggara yang kaya akan keragaman budaya.

Baca juga: Canangkan Visi Beautiful Indonesia, Prabowo Akan Libatkan Tim Arsitektur Menata Kota-Kota

Simposium bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design,” itu menghadirkan sekitar 190 pakar arsitektur dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia. Mereka berkumpul untuk satu misi: merumuskan masa depan arsitektur kawasan yang tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.

Arsitek Senior Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Budi Pradono mengatakan, kondisi ini membuat pentingnya kolaborasi lintas negara dan kemitraan untuk menegaskan vitalitas aliansi regional kita untuk memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapai yang lebih berani dan berdampak.

Artikel ini dikutip dari siaran pers PT NS BlueScope Indonesia yang dikirimkan ke housingestate.id Senin (5/1/2026).

Berita Terkait

Ekonomi

Sangat Tinggi Kenaikan Harga pada Desember 2025

Kenaikan harga barang dan jasa pada akhir tahun 2025...

Kunjungan Turis Asing Catat Rekor Tertinggi Dalam 6 Tahun

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau turis asing ke Indonesia...

Inflasi 2025 Hampir Dua Kali Inflasi 2024

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Desember 2025 terjadi...

Surplus Neraca Dagang Indonesia Berlanjut Tanpa Jeda

Neraca perdagangan Indonesia masih terus mencatat surplus. Sepanjang Januari-November...

Berita Terkini