Bank Dunia Benar, Purbaya Sok Gaya, Defisit APBN Sudah Dekati 3 Persen, Keseimbangan Primer Minus
Bank Dunia dalam laporannya yang dipublikasikan medio Desember 2025 menyatakan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) RI akan melebar secara bertahap hingga 2027 menjadi 2,9 persen dari PDB atau mendekati batas aman dari defisit 3 persen yang ditetapkan dalam UU Keuangan Negara. Khusus 2025 defisit itu diprediksi Bank Dunia mencapai 2,8 persen.
Defisit anggaran belanja negara terjadi karena penerimaan lebih kecil dari pengeluaran. Untuk menutup defisit, maka pemerintah pun berutang. Makin besar defisit, kian besar pula utang baru yang harus diambil.
Menanggapi laporan lembaga global seperti Bank Dunia itu, seperti biasa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meremehkannya.
“Suka-suka dia, dia prediksi boleh, nggak juga gapapa. Tapi kan selama ini juga (prediksi Bank Dunia dan IMF) sering meleset,” kata Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa edisi Desember 2025 di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Purbaya percaya, dengan perbaikan yang dilakukannya di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), penerimaan negara akan makin meningkat sehingga defisit mengecil.
“Bea Cukai sudah saya tunjukkan, kita sudah menerapkan AI (artificial intelligence dalam pekerjaannya) di lapangan. Harusnya ke depan (penerimaan cukai) makin membaik. Dari penerapan AI itu saja kita bisa dapat Rp1 triliun minimal. Nanti kita akan perbaiki lagi yang lain-lain,” jelasnya.
Hingga November, APBN 2025 mencatat defisit Rp560,3 triliun atau 2,35 persen PDB. Meningkat dibanding Oktober yang hanya 2,02 persen. Pada akhir 2025 defisit APBN itu melonjak menjadi 2,92 persen atau hampir menyentuh batas aman 3 persen. Jadi, belum sampai 2027 seperti diramal Bank Dunia, defisit APBN RI sudah lebih dari 2,9 persen.
Defisit APBN 2025 itu juga meleset dari defisit yang disepakati pemerintah dan DPR di APBN 2025 sebesar 2,78 persen, yang sudah diperlebar dari defisit yang disepakati sebelumnya sebesar 2,53 persen.
Baca juga: Menkeu-Gubernur BI Sepakati Utang Rp775,8 Triliun untuk Tutup Defisit APBN 2025
Defisit APBN 2025 sebesar 2,92 persen itu disampaikan sendiri oleh Purbaya dalam konferensu pers APBN Kita 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Menteri Keuangan menyampaikan, sampai akhir 2025 realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp2.865,5 triliun.
Didukung penerimaan perpajakan Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target sebesar Rp2.387,3 triliun. Yaitu, berupa penerimaan pajak Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target, dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target.
Sedangkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp534,1 triliun atau 104,0 persen dari target Rp477,2 triliun, serta penerimaan hibah Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target Rp1 triliun.
Sementara belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp3.527,5 triliun.
Terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp2.602,3 triliun (belanja kementerian dan lembaga Rp1.500,4 triliun dan belanja non-K/L Rp1.102 triliun), serta transfer ke daerah Rp849 triliun.
Dengan demikian di akhir tahun terjadi defisit 2,92 persen dari PDB atau sebesar Rp695,1 triliun.
Menkeu pun ngeles, ekonomi Indonesia sedang mengalami downtrend, turun ke bawah. Untuk itu pemerintah harus menerapkan kebijakan countercyclical berupa stimulus ke perekonomian, sebagai wujud komitmen pemerintah menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan tanpa membahayakan APBN.
“Kita tetap jaga APBN, pastikan defisitnya tidak di atas 3 persen. Ini dengan misi menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” terang Menkeu.
Sebelumnya Purbaya menyebut, 80 persen ekonomi Indonesia bergantung pada pasar domestik, bukan pasar global. Jadi, situasi global tidak boleh jadi alasan untuk ekonomi domestik tidak tumbuh tinggi.
Menteri Purbaya meyakini, dengan membaiknya fondasi perekonomian dan menguatnya momentum pertumbuhan ekonomi ke depan, tahun ini defisit dapat ditekan ke level yang lebih rendah, dengan dampak pertumbuhan ekonomi ke masyarakat yang lebih besar dibanding 2025.
“Tahun ini kita asumsikan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen. Kita akan coba tekan ke level yang lebih tinggi lagi,” ujar Menkeu sesumbar.
Ia menyebut APBN dan mesin pertumbuhan yang lain, akan terus dioptimalkan peranannya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. APBN juga akan terus dioptimalkan sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas perekonomian.
Bukan hanya defisit yang membesar, keseimbangan primer 2025 juga minus atau defisit Rp180,7 triliun, dari dua tahun sebelumnya selalu surplus.
Keseimbangan primer adalah selisih total penerimaan negara dengan total belanja negara, tidak termasuk pembayaran bunga utang.
Keseimbangan primer merupakan indikator penting kesehatan fiskal, karena menunjukkan kemampuan pemerintah membayar utang dari pendapatan sendiri tanpa menambah utang baru.
Jika surplus (positif), pemerintah bisa membayar pokok dan bunga utang. Kalau defisit (negatif), butuh utang baru untuk membayar utang lama, menandakan kurangnya ketahanan fiskal jangka panjang.