Colliers: Apartemen Bukan Produk Hunian Tapi Lifestyle
Sektor apartemen masih menjadi salah satu instrumen properti yang penuh tantangan untuk dipasarkan di Indonesia. Di tengah perkembangan perkotaan yang begitu pesat dan kebutuhan hunian yang tinggi, apartemen belum bisa menjadi solusi untuk sarana hunian khususnya bagi kalangan pekerja perkotaan.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, saat ini harga bukan lagi menjadi faktor penentu untuk konsumen yang mencari unit apartemen tapi lebih mengutamakan kejelasan maupun kepastian serah terima unit yang tepat waktu.
“Di sisi lain sulitnya mendorong masyarakat untuk berhunian di apartemen karena produk nyatanya bukan untuk hunian tapi produk lifestyle. Akhirnya yang berkembang adalah dari sisi investasi dan belum bisa menjadi solusi untuk pemenuhan kebutuhan hunian yang besar,” ujarnya saat acara Colliers Indonesia Virtual Media Briefing Q4 2025 pekan ini.
Pergeserean lain yang terjadi pada produk apartemen yaitu pembeli yang tidak lagi mencari sekadar harga murah tapi lebih fokus pada penyelesaian proyek. Hal ini tidak terlepas dari maraknya kasus proyek apartemen yang molor bahkan gagal dibangun sehingga konsumen menjadi lebih selektif.
Baca juga: Coliiers: Pasar Apartemen Jakarta Tetap Stabil
Hal lain yang juga dipastikan adalah adanya kepastian pengembalian dana bila proyek gagal di-deliver. Sudah cukup banyak kasus apartemen yang gagal delivery dan saat menagih dananya (refund) juga sulit. Ini yang membuat konsumen ekstra hati-hati saat membeli produk apartemen.
Akhirnya pengembang dengan reputasi yang baik dan track record deliver produk yang menjadi pilihan utama. Perubahan preferensi konsumen terkait unit apartemen ini berdampak langsung pada penjualan unit yang rata-rata di angka 60 persen. Bahkan unit yang belum dibangun sama sekali menjadi kurang diminati.
Baca juga: Pasokan Unit Apartemen Jabodetabek Melonjak 211 Persen
Adanya insentif pajak PPN DTP juga kurang begitu efektif untuk unit apartemen karena sifat insentif ini yang diberikan tahunan sementara pembangunan apartemen umumnya di atas tiga tahun. Itu yang membuat efektivitas insentif ini kurang terasa untuk apartemen, berbeda dengan rumah tapak.
“Namun dengan berbagai kondisi ini, sektor apartemen yang kami amati masih relatif stabil dan positif di sepanjang tahun 2025. Jumlah stok baru yang masuk pasar memang rendah tapi kondisi itu juga yang membuat stabilitias pasar. Tahun 2025 stok yang masuk hanya 2.200 unit dan itu hanya separuh dari kondisi tahun 2024 yang malah membuat kondisi pasar stabil,” pungkas Ferry.