Material Baja Bisa untuk Arsitektur Estetik Hingga Resilient
Indonesia terletak di kawasan ring of fire yang membuatnya rawan gempa bumi dan kondisi ini menuntut pendekatan arsitektur yang melampaui sekadar estetika. Dalam diskusi yang melibatkan tokoh arsitektur nasional Georgius Budi Yulianto, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Firman Setia Herwanto, Juri Panelis ASEAN Steel Architectural Awards 2026, mengemuka pandangan bahwa material baja memegang peranan strategis dalam mitigasi bencana dan pelestarian identitas budaya.
Menurut Georgius, penggunaan material baja yang masif sudah bisa dilihat di wilayah Sumatera khususnya untuk atap yang sangat populer dibandingkan penggunaan atap genteng tanah liat yang banyak digunakan di Pulau Jawa.
“Penggunaan material metal yang lebih ringan justru tidak terlalu bahaya saat terjadi gempa. Hal ini juga berkaitan erat dengan proses mitigasi kebencanaan, dalam skenario gempa bumi beberapa risiko sering dikaitkan ke material konstruksi yang berat. Di sinilah baja menawarkan keunggulan signifikan,” ujarnya dari siaran pers yang diterima Sabtu (17/01).
Sebagai material yang ringan, modular, dan fleksibel, baja memungkinkan struktur bangunan merespons guncangan secara lebih adaptif. Sistem knockdown pada baja memungkinkan pembangunan fasilitas umum darurat-seperti rumah sakit, sekolah, dan rumah ibadah-dilakukan dalam waktu singkat. Meski dibangun secara cepat, struktur yang dihasilkan tetap kokoh dan andal.
Diskusi ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa penggunaan baja berpotensi menghilangkan karakter tradisional dalam arsitektur. Firman menjelaskan, pendekatan arsitektur kontemporer kini semakin menempatkan unsur heritage sebagai filosofi, bukan sekadar reproduksi bentuk fisik.
“Arsitektur tradisional kita seperti Rumah Gadang atau Toraja sebenarnya sudah menggunakan prinsip fleksibilitas (sistem pasak tanpa paku) yang sangat ramah gempa. Prinsip ini sangat kompatibel dengan teknologi baja modern yang fleksibel dan presisi,” jelasnya.
Baca juga: Karakteristik Material Baja untuk Arsitektur Berkelanjutan
Melalui material baja, kalangan arsitek dapat melakukan adaptive reuse pada bangunan tua hingga menjadikannya tetap relevan dan fungsional di era modern tanpa kehilangan identitasnya.
Simposium 2025 “Shaping Resilient Futures: Heritage & Modernity in Steel Architectural Design” yang digelar bersama BlueScope Indonesia belum lama ini menjadi bagian dari langkah strategis IAI dalam mendorong kolaborasi dan keberanian inovasi di kalangan arsitek nasional.
Forum ini diposisikan sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus persiapan menuju kompetisi regional. Sebagai tuan rumah dan kolaborator utama, IAI mendukung penuh program Steel Architectural Awards ASEAN 2026 “Shaping Resilient Futures: Timeless Design with Coated Steel”. Ajang ini diharapkan menjadi benchmark kualitas bagi arsitek Indonesia untuk menyandingkan karya mereka dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Baca juga: Kolaborasi BlueScope-Mega Baja Hadirkan Bangunan Tahan Gempa
Arsitek Indonesia memiliki talenta yang luar biasa dan varian desain yang sangat banyak. Melalui kolaborasi dengan mitra seperti BlueScope maka arsitek Indonesia tidak hanya jadi penonton, tapi jadi dominator di kancah internasional.
Dengan semangat resiliensi dan keberlanjutan, sinergi ini juga menandai babak baru bagi dunia arsitektur Indonesia di mana setiap bangunan tidak hanya cantik dipandang tetapi juga mampu ‘bercerita’ dan melindungi penghuninya dari tantangan alam.