Jumat, Januari 16, 2026
HomeBerita PropertiYuk Kenali Kualitas Udara dan yang Bisa Memengaruhinya

Yuk Kenali Kualitas Udara dan yang Bisa Memengaruhinya

Kita kerap meremehkan kualitas udara yang bersih untuk kita hirup. Layaknya air minum yang bersih, udara bersih juga merupakan fondasi penting bagi kesehatan. Tanpa disadari, ribuan liter udara masuk ke dalam tubuh setiap harinya yang jika tercemar akan berdampak pada iritasi ringan di mata hingga risiko penyakit yang lebih serius.

Karena itu isu kualitas udara terus mengemuka dalam beberapa tahun terakhir terlebih aktivitas manusia tidak lepas dari kondisi cuaca maupun perubahan iklim yang ikut memainkan peran penting terkait kebersihan udara di sekitar kita.

Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan kualitas udara? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan terkait pengertian, unsur pembentukan, sumber pencemaran, hingga berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga udara tetap bersih sebagaimana dikutip dari siaran pers BMKG Rabu (14/01).

Apa Itu Kualitas Udara?
Kualitas udara adalah ukuran kebersihan udara dari polutan yaitu zat-zat kecil tak kasat mata yang dapat membahayakan kesehatan saat terhirup. Secara umum, kualitas udara dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: pencemaran udara yang dampaknya dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari dan gas rumah kaca yang memengaruhi iklim dalam jangka panjang dan berkontribusi terhadap pemanasan global.

Pencemaran udara terjadi ketika asap kendaraan, emisi industri, dan pembakaran sampah melepaskan zat berbahaya ke atmosfer. Udara yang tercemar dapat memicu gangguan pernapasan, mengganggu ekosistem, dan menurunkan kualitas hidup.

Sementara itu, gas rumah kaca (GRK) merupakan “selimut” alami bumi yang berfungsi menahan panas matahari agar suhu tetap stabil. Gas-gas utamanya meliputi karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O).

Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil atau pengelolaan sampah yang tidak ramah lingkungan. Inilah yang menyebabkan selimut ini semakin menebal sehingga terjadi pemanasan global.

Unsur yang Diamati dalam Kualitas Udara
Secara umum, terdapat dua kelompok unsur yang digunakan untuk memantau kualitas udara yaitu pencemaran udara dan GRK.

Pencemaran udara mencakup berbagai polutan yang berdampak langsung pada kesehatan dan lingkungan yang terdiri dari Partikulat (SPM, PM₁₀, PM₂.₅). Partikulat adalah debu halus yang berasal dari asap kendaraan, industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan. Ukurannya sangat kecil bahkan lebih kecil dari sehelai rambut sehingga mudah terhirup.

Baca juga: Sistem Pemantauan Kualitas Udara Jakarta Jadi Dasar Mitigasi dan Kebijakan

Terdapat dua klasifikasi partikulat yaitu PM₁₀: Partikel “kasar” yang dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan, contoh sumbernya debu jalanan dan serbuk sari. PM₂.₅: Partikel “super halus” yang paling berbahaya karena dapat masuk hingga ke dalam paru-paru bahkan aliran darah.

Sumber utama partikulat di sekitar kita seperti asap kendaraan, emisi industri dan pembangkit listrik, debu proyek konstruksi, hingga kebakaran hutan dan pembakaran sampah.

Kemudian Sulfur Dioksida (SO₂), gas berbau tajam yang berasal dari pembakaran batu bara dan minyak. SO₂ dapat memicu iritasi tenggorokan dan berkontribusi terhadap hujan asam. Nitrogen Oksida (NO dan NO₂) yang berasal dari asap kendaraan dan industri. Gas ini menjadi salah satu penyebab kabut asap yang membuat mata perih dan mengganggu pernapasan.

Ozon (O₃) di lapisan atmosfer atas sangat penting melindungi bumi namun di permukaan tanah (ground-level ozone), ozon dapat menyebabkan iritasi mata dan sesak napas. Karbon Monoksida (CO) merupakan gas tidak berbau dan tidak berwarna yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan.

CO berbahaya karena dapat mengurangi suplai oksigen dalam darah. Kimia air hujan memiliki kandungan kimia dalam air hujan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat pencemaran udara di suatu wilayah.

Baca juga: Membersihkan Udara di Dalam Rumah Ala Ikea

Sementara itu GRK berperan dalam pemanasan global dan perubahan iklim dengan beberapa unsur utamanya Karbon Dioksida (CO₂) yang berasal dari kendaraan, industri, serta pembakaran bahan bakar fosil.

Metana (CH₄) dihasilkan dari peternakan, sampah organik, serta pertambangan. Gas ini lebih kuat menahan panas dibanding CO₂. Kemudian Nitrous Oksida (N₂O) yang berasal dari pupuk pertanian dan limbah serta turut mempercepat pemanasan Bumi. Sulfur Heksafluorida (SF₆), gas buatan manusia yang digunakan pada peralatan listrik dan memiliki dampak besar terhadap iklim.

Dari berbagai senyawa maupun GRK ini tentu memiliki dampak. Diantaranya pencemaran udara dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan pernapasan (asma, bronchitis, infeksi), masalah jantung, iritasi, gangguan pertumbuhan anak, dan sebagainya.

Untuk menjaga kualiutas udara bukan hanya ditentukan oleh faktor alam dan aktivitas industri tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Mulai dari cara kita bepergian, mengelola sampah, hingga memilih aktivitas ketika kondisi polusi meningkat, semuanya berkontribusi pada udara yang kita hirup.

Meskipun terlihat sederhana, perubahan kecil dalam pola hidup bisa membawa dampak besar bagi kesehatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Maka beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu pantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebelum beraktivitas di luar. Dengan memantaunya kita dapat menyesuaikan aktivitas agar tetap aman.

Gunakan masker N95/KF94 saat kualitas udara sedang buruk: masker berfilter tinggi mampu menyaring partikel halus seperti PM₂.₅ yang berbahaya bagi kesehatan. Hindari olahraga di luar ruangan ketika polusi tinggi. Tutup jendela dan gunakan air purifier bila memungkinkan, langkah ini bisa membantu mencegah polutan luar masuk ke dalam rumah serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan tetap baik.

Gunakan transportasi umum karena semakin sedikit kendaraan pribadi di jalan, semakin rendah emisi yang dihasilkan. Cara ini juga menjadi langkah nyata mengurangi polusi udara di perkotaan. Hemat energi dengan mematikan lampu dan peralatan yang tidak digunakan yang berarti menurunkan emisi dari pembangkit listrik.

Baca juga: Januari-November Kereta di Jabodetabek Angkut 333 Juta Penumpang, Bantu Perbaiki Kualitas Udara Jakarta

Tanam pohon karena pohon berfungsi sebagai penyaring udara alami yang dapat menyerap karbondioksida, melepaskan oksigen, dan menangkap partikel debu. Hentikan pembakaran sampah karena asap dari pembakaran sampah mengandung berbagai zat berbahaya yang memperburuk kualitas udara dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Pada akhirnya udara bersih bukan hanya penting bagi kesehatan individu tetapi juga bagi lingkungan dan masa depan generasi berikutnya. Menghirup udara segar bukanlah kemewahan melainkan hak setiap orang. BMKG juga memiliki aplikasi resmi Info BMKG untuk melihat cuaca, iklim, dan gempa bumi yang tersedia di App Store maupun Google Play.

Berita Terkait

Ekonomi

Dari Pantai, Goa, Hingga Waterfall, Ada Semua di Maluku Tenggara

Ada banyak panorama alam yang bisa dinikmati di “seribu...

November 2025 Utang Luar Negeri Pemerintah Menurun

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Kamis (15/1/2026), utang luar negeri...

Tahun Ini Pemerintah Targetkan Kunjungan Turis Asing Hingga 17,6 Juta

Pemerintah akan menggenjot sektor pariwisata, karena kontribusinya yang kian...

Diklaim Sukses Tahun 2025, Paket Stimulus Ekonomi Dilanjutkan Tahun Ini

Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian telah merumuskan Paket Stimulus Ekonomi...

Berita Terkini