Januari-November Kereta di Jabodetabek Angkut 333 Juta Penumpang, Bantu Perbaiki Kualitas Udara Jakarta
Pekan lalu kualitas udara di wilayah Jabodetabek mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai level “bersih dan segar”.
Tingkat PM2.5 (partikel halus di udara dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer) di Jakarta turun hingga di bawah angka 10, menjadikannya salah satu yang terendah dan sebanding dengan kota-kota terbersih di dunia.
Sabtu pagi (7/12/2024) situs IQAir mencatat Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 69 atau masuk kategori “sedang”.
Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Anne Purba menyatakan, perbaikan kualitas udara tidak hanya bergantung pada fenomena alam, tapi juga pada peran aktif masyarakat dalam menggunakan transportasi ramah lingkungan.
Salah satunya moda transportasi kereta api, yang berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan polusi udara di Jabodetabek.
Baca juga: Setahun Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Angkut 5,8 Juta Penumpang
Sepanjang Januari-November 2024 KAI Group mencatat total 333.371.342 penumpang yang memanfaatkan layanan kereta api di wilayah Jabodetabek.
“Pencapaian itu mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi massal yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan yang dikelola KAI Group,” kata Anne melalui keterangan tertulis pekan lalu.
Dari total penumpang KAI di Jabodetabek itu, sebanyak 299.329.042 adalah penumpang kereta komuter atau commuterline.
Selebihnya sebanyak 18.891.719 penumpang LRT Jabodebek, 9.714.046 penumpang kereta jarak jauh dan lokal yang dioperasikan KAI Daerah Operasi 1 Jakarta, dan 5.436.535 penumpang kereta cepat Whoosh (KCIC).
Anne menjelaskan, efisiensi kereta api dapat dilihat dari kapasitas angkutnya yang besar. Sekali jalan, 1 rangkaian kereta jarak jauh terdiri dari 8-14 kereta penumpang dengan kapasitas hingga 1.120 tempat duduk.
Dibanding mobil pribadi berkapasitas 7 orang atau motor berkapasitas 2 orang, 1 perjalanan kereta api dapat menggantikan 160 mobil atau 560 motor.
Contoh lain, perjalanan 1 rangkaian commuter line terdiri atas 8-12 kereta dengan kapasitas maksimal 3.000 penumpang. Satu rangkaian kereta komuter itu mampu menggantikan penggunaan 428 mobil pribadi dan 1.500 motor.
Kementerian Perhubungan menyebutkan, emisi yang dihasilkan kereta api juga jauh lebih kecil dibanding mobil atau pesawat. Dalam 200 mil perjalanan, emisi dari mobil atau pesawat 5 kali lipat emisi kereta api.
Baca juga: Menhub: Pelabuhan dan Kereta Api Paling Banyak Dibangun Pemerintah 10 Tahun Terakhir
Berdasarkan penelitian Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Inggris via Our World in Data, emisi setara CO2 per penumpang per km pada kereta mencapai 41 gram, sedangkan pada sepeda motor 103 gram, dan mobil 192 gram.
Dengan demikian, perjalanan kereta api dengan 1.120 penumpang hanya menghasilkan 45.920 gram CO2 per km, jauh lebih rendah dibanding motor sebanyak 115.360 gram CO2, dan mobil 215.040 gram CO2.
Anne menyebutkan, dengan makin banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan kereta api, makin besar pula peranan moda transportasi itu mengurangi emisi CO2.
“Setiap hari penggunaan kereta api mengurangi sekitar 2.141 ton CO2, dan dalam setahun pengurangannya mencapai 780.528 ton CO2. Dampaknya sangat besar dalam meningkatkan kualitas udara di Jabodetabek menjadi lebih bersih dan sehat,” pungkas Anne.