Sabtu, Oktober 3, 2026
HomeUncategorizedJelang Idulfitri, Seluruh Kelompok Konsumen Kompak Perbanyak Tabungan dan Kurangi Belanja

Jelang Idulfitri, Seluruh Kelompok Konsumen Kompak Perbanyak Tabungan dan Kurangi Belanja

Kalau pada Januari 2026 masih ada kelompok pengeluaran yang meningkatkan belanja dan mengurangi porsi tabungan dalam pendapatannya, pada Februari 2026 seluruh kelompok pengeluaran kompak mengurangi belanja dan memperbanyak tabungan.

Hal itu sejalan dengan hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) Januari 2026 yang mengungkapkan, secara tahunan (yoy) penjualan eceran pada Januari 2026 tumbuh 5,7 persen (yoy) dibanding 3,5 persen (yoy) pada Desember 2025.

Namun, secara bulanan (mtm) penjualan eceran riil Januari 2026 terkontraksi (minus) 2,7 persen (mtm), dibanding Desember 2025 yang tumbuh 3,1 persen (mtm).

Menurut Survei Konsumen BI yang dirilis pekan ini, pada Februari 2026 rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 71,6 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 72,3 persen.

Sementara proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,6 persen, lebih rendah dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 11,2 persen.

Sedangkan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 17,7 persen, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 16,5 persen.

Baca juga: Februari Keyakinan Konsumen Menurun, Dipengaruhi Ekspektasi Terhadap Prospek Ekonomi ke Depan

Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi menurun pada seluruh kelompok pengeluaran. Paling dalam penurunan porsi konsumsi kaum bawah (pengeluaran Rp1-2 juta) dari 74,5 persen menjadi 72,9 persen, dan kaum atas (pengeluaran >Rp5 juta) dari 70,1 persen menjadi 68,8 persen.

Begitu pula, porsi pendapatan yang ditabung, mengalami peningkatan pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada kaum menengah (pengeluaran Rp3,1-4 juta) dari 15,3 persen menjadi 17,5 persen.

Hasil survei keuangan konsumen ini kurang selaras dengan hasil Survei Penjualan Eceran BI yang memprakirakan, pada Februari 2026 Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 6,9 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibanding Januari 2026 sebesar 5,7 persen (yoy).

Secara bulanan (mtm), IPR Februari 2026 juga diperkirakan BI meningkat pertumbuhannya menjadi 4,4 persen (mtm), setelah pada Januari 2026 terkontraksi (minus) 2,7 persen.

Namun, IPR Februari 2026 masih bersifat perkiraan. Masih harus ditunggu apakah kenyataan atau realisasinya nanti penjualan eceran Februari 2026 memang meningkat.

Berita Terkait

Ekonomi

Inflasi Dekati Kisaran Sasaran, BI Bilang Masih Terkendali

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Indeks Harga Konsumen...

September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada September 2026...

Agustus Surplus Neraca Dagang RI Melonjak Jadi USD3,55 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada...

Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kembali ke zona...

Berita Terkini