Menengok Spot Ikonik di Tanah Haram, dari Multazam Hingga Hijr Ismail
Ada banyak tempat atau spot menarik yang menjadi keutamaan untuk dikunjungi saat kaum Muslimin menunaikan ibadah umrah maupun haji di Masjidil Haram. Di sekitar Ka’bah, terdapat sejumlah tempat yang memiliki sejarah dan kedudukan penting dalam Agama Islam, di antaranya Multazam, Hijr Ismail, dan Maqam Ibrahim.
Ketiganya berada di kawasan yang sangat dekat dengan Ka’bah tetapi memiliki letak, sejarah, dan kaitan ibadah yang berbeda. Mengetahui perbedaannya dapat membantu jamaah memahami kawasan Masjidil Haram sekaligus menjalankan ibadah dengan lebih tertib.
Dikutip dari laman resmi Bank Muamalat Rabu (7/10), Multazam adalah bagian dinding Ka’bah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Merujuk pada sumber dari otoritas pengelola Masjidil Haram, Multazam terletak pada sisi timur Ka’bah, tepat di antara sudut tempat Hajar Aswad berada dan pintu Ka’bah.
Nama Multazam berasal dari kata Arab yang berkaitan dengan makna “melekat” atau “berpegang erat”. Penamaan ini berhubungan dengan praktik sebagian sahabat yang berdoa dengan mendekatkan dada, wajah, dan tangan pada bagian tersebut. Riwayat mengenai praktik ini menjadi dasar pembahasan para ulama mengenai berdoa di Multazam.
Lokasi persis Multazam menghadap langsung ke pintu Ka’bah yang berada pada bidang dinding di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Multazam dikenal sebagai tempat untuk memperbanyak doa dan munajat kepada Allah SWT. Praktik berdoa di tempat ini memiliki landasan dari riwayat para sahabat.
Namun, penting untuk memahami bahwa mendatangi Multazam bukan bagian wajib dari haji atau umrah. Jamaah juga tidak perlu memaksakan diri mendekati Multazam apabila kondisi di sekitar Ka’bah sangat padat. Berdoa tetap dapat dilakukan dari tempat lain di Masjidil Haram tanpa harus berdesakan atau mengganggu jamaah yang sedang melaksanakan tawaf.
Baca juga: Bank Muamalat Bagi Tips Capai 3 Impian: Berangkat Haji, Aset Emas, Punya Rumah
Adapun Hijr Ismail adalah area berbentuk setengah lingkaran atau seperti bulan sabit yang berada di sisi utara Ka’bah. Area ini dibatasi oleh dinding rendah melengkung yang mudah dikenali dari area tawaf. Posisinya menepel pada sisi utara Ka’bah, di bawah arah pancuran air Ka’bah atau Mizab. Bentuknya berupa dinding melengkung dengan akses terbuka pada kedua sisinya.
Hijr Ismail dianggap bagian dari Ka’bah karena memiliki dasar hadis yang kuat. Diriwayatkan oleh Aisyah (istri Nabi Muhammad SAW), Aisyah pernah menyampaikan keinginannya untuk masuk ke dalam Ka’bah dan melaksanakan salat di sana. Rasulullah SAW kemudian mengarahkannya untuk salat di Hijr dan menjelaskan bahwa area tersebut merupakan bagian dari Ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ketika kaum Quraisy membangun kembali Ka’bah.
Riwayat lain dalam Sahih Bukhari juga menjelaskan bahwa ketika kaum Quraisy membangun kembali Ka’bah, sebagian fondasi Ka’bah tidak dimasukkan ke dalam bangunan seperti bentuk asalnya.
Karena itu, jemaah yang melakukan tawaf harus mengelilingi bagian luar Hijr Ismail, bukan berjalan melaluinya. Memotong jalur tawaf melewati bagian dalam Hijr berarti tidak mengelilingi seluruh bagian Ka’bah. Maka salah satu keistimewaan utama Hijr Ismail adalah statusnya sebagai bagian dari Ka’bah.
Sementara Maqam Ibrahim adalah batu tempat Nabi Ibarhim berpijak ketika membangun Ka’bah. Batu tersebut kini berada di dalam pelindung transparan yang dapat dilihat jamaah di area mataf, tidak jauh dari Ka’bah. Pada batu tersebut terdapat jejak yang secara tradisi dan sumber sejarah Islam dikaitkan dengan bekas pijakan Nabi Ibrahim saat meninggikan bangunan Ka’bah.
Maqam Ibrahim berada di sisi timur Ka’bah, menghadap bagian pintu Ka’bah dan Multazam. Saat ini batu tersebut dilindungi oleh struktur transparan sehingga tetap dapat terlihat oleh jamaah tanpa harus menyentuhnya. Lokasinya berada di area tempat jamaah melakukan tawaf sehingga arus jemaah di sekitarnya biasanya cukup padat.
Baca juga: KPR iB Hijrah Baitullah Bank Muamalat Bisa Dapat Bonus Haji-Umrah
Maqam Ibrahim memiliki kedudukan khusus karena disebut secara langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 125: “…Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat…”
Ayat tersebut menjadi dasar pelaksanaan salat dua rakaat setelah tawaf yang dianjurkan dilakukan dengan posisi Maqam Ibrahim berada di antara orang yang salat dan Ka’bah apabila kondisi memungkinkan.
Walaupun sama-sama berada di sekitar Ka’bah, ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda. Multazam merupakan bagian dinding Ka’bah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah serta dikenal sebagai tempat berdoa dan bermunajat.
Hijr Ismail merupakan area setengah lingkaran di sisi utara Ka’bah. Berdasarkan hadis Nabi SAW, sebagian wilayah di dalam Hijr termasuk bagian dari Ka’bah yang tidak masuk ke dalam bangunan ketika Quraisy melakukan pembangunan kembali. Sementara Maqam Ibrahim merupakan batu yang berkaitan dengan proses pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim.