HousingEstate, Jakarta - Pandemi tidak menghalangi minat sebagian orang untuk membeli rumah. Hanya, terjadi pergeseran segmen rumah yang paling diminati. Yaitu, rumah menengah seharga Rp500 juta ke bawah. Lebih dari 70 persen calon pembeli rumah itu bermotif investasi. Mereka melihat peluang mendapatkan cuan yang lumayan bila membeli saat pandemi, karena harganya dinilai lebih rendah dan developer serta perbankan banyak menawarkan kemudahan cara bayar.

Menurut hasil survei konsumen yang dilakukan Indonesia Property Watch (IPW) yang dikirimkan kepada housingestate.id di Jakarta pekan lalu, sekitar 68 persen lebih konsumen yang disurvei menyatakan tetap berminat membeli properti saat pandemi. Survei dilakukan awal September 2020 terhadap 285 responden secara daring. Sebanyak 36,73 persen berdiam di Jakarta, 45,17 persen di sekitar Jakarta (Bodebek-Banten), selebihnya di Jawa dan luar Jawa.

Sebanyak 44,09 persen responden berusia antara 45-55 tahun, 30,11 persen berumur 35-45 tahun, selebihnya di luar usia tersebut. Lebih dari setengah responden (51,06 persen) masih memilih rumah dibanding properti lain, disusul kaveling siap bangun (22,34 persen), apartemen (11,7 persen), SOHO/ruko/rukan (10,64 persen), sisanya gudang, vila, kondotel.

Secara umum yang paling diminati untuk dibeli adalah rumah seharga hingga Rp1 miliar/unit. Rinciannya, rumah seharga Rp500 juta-1 miliaran (29,79 persen responden), diikuti rumah seharga Rp300-500 juta (28,72 persen), Rp1-3 miliar (23,40 persen), di bawah Rp300 juta (10,64 persen), dan di atas Rp3 miliar (7,45 persen). “Hasil survei itu selaras dengan survei tren pasar properti triwulanan yang rutin dilakukan IPW, di mana segmen menengah masih menjadi pasar yang paling gemuk,” kata Ali Tranghanda, CEO IPW.

 

Turun segmen

Ia menyebutkan, saat ini terjadi pergeseran minat konsumen ke segmen properti yang lebih rendah. Hal itu terlihat dari penurunan tren harga rata-rata penjualan Misalnya, yang dulu ingin membeli hunian seharga di atas Rp1 miliar, sekarang diperkirakan memilih rumah seharga Rp500 juta-1 miliar. Yang tadinya ingin membeli rumah Rp500 jutaan, kini bergeser ke segmen Rp300 juta, dan yang awalnya punya niat membeli rumah Rp300 jutaan, sekarang hanya mampu menaksir rumah di bawah Rp300 jutaan namun bukan rumah bersubsidi.

Sebanyak 28,46 persen responden menyatakan, dalam membeli properti lebih mempertimbangkan faktor harga, kemudian brand developer (16,21 persen), dan kedekatan lokasi proyek dengan fasilitas umum (15,42 persen). “Luas tanah dan bangunan tidak terlalu dipertimbangkan selama harganya sesuai (dengan ekspektasi konsumen),” kata Ali.

Responden menyatakan tetap berminat membeli properti kendati ada pandemi, karena merasa harganya lebih rendah dibanding sebelumnya dan developer serta perbankan banyak menawarkan kemudahan cara bayar.

“Sebanyak 42,55 persen responden menyatakan, berminat membeli saat pandemi karena menilai ini saat yang tepat untuk mengoleksi properti sebagai investasi jangka panjang. Sebesar 22,34 persen akan membeli properti untuk dihuni sendiri, dan 18,09 persen untuk segera dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jadi, saat pandemi pun investor jangka pendek atau spekulator masih banyak juga,” jelasnya. Selebihnya berminat membeli properti sebagai tabungan untuk anak-anak, sebagai koleksi, ikut-ikutan, dan lain-lain.

Hanya saja, tingkat kepastian responden merealisasikan minat belinya masih rendah. Yang menyatakan akan mewujudkan pembelian dalam enam bulan sampai satu tahun ke depan hanya 10 – 11 persenan. Sejumlah developer sudah berupaya merespon perilaku pasar selama pandemi dan resesi itu, dengan menawarkan produk dengan harga yang lebih terjangkau di lokasi favorit kendati luasannya jauh lebih mungil. Ulasannya bisa dibaca di liputan utama majalah HousingEstate edisi September 2020.