Rabu, Oktober 7, 2026
HomeNewsEkonomiAirlangga: Hilirisasi, Transformasi Industri, dan Digitalisasi Buka Peluang Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Airlangga: Hilirisasi, Transformasi Industri, dan Digitalisasi Buka Peluang Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh memadai, mencapai 5,45 persen (yoy) selama semester I-2026.

Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) tersebut, dengan pangsa sekitar 18,50 persen. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, memberikan kontribusi sebesar 16,83 persen.

Kinerja manufaktur juga terus menguat, dengan PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 kembali ke zona ekspansi (indeks >50) dengan indeks 52,4, jauh meningkat dibanding Agustus 2026 sebesar 49,8, terkuat sejak Februari 2026.

Selain itu, defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB, rasio utang pemerintah terhadap PDB sekitar 41 persen. Menunjukkan ruang fiskal dan fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga dibandingkan sejumlah negara maju dan berkembang

“Ke depan pengembangan industri menjadi kunci pertumbuhan ekonomi. Kita terus mendorong nilai tambah yang lebih tinggi dari hilirisasi sumber daya alam kita baik yang renewable maupun yang non-renewable,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam BIG Downstream Insights 2026 yang diadakan Bisnis Indonesia Group (BIG) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Acara dihadiri para pimpinan BIG dan para petinggi Kemenko Perekonomian seperti Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Elen Setiadi, dan Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Haryo Limanseto, serta Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah, para pelaku usaha dan akademisi.

Baca juga: Butuh Investasi Hingga Rp2.258 Triliun Agar Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Hilirisasi itu tidak hanya diarahkan pada komoditas mineral dan batu bara, tapi juga komoditas berbasis pertanian, perkebunan, kehutanan, serta perikanan dan kelautan.

Komoditas seperti kelapa sawit, karet, kelapa, dan produk perikanan memiliki potensi besar dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.

“Saya memberi catatan, hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu dari industri dan berbagai manufaktur lain yang didorong seperti otomotif, tekstil, produk tekstil, sektor fast moving consumer goods, dan sektor strategis lain. Ini perlu terus kita dorong agar kontribusi industri terhadap GDP bisa lebih tinggi dari 20 persen,” jelas Menko Airlangga melalui keterangan resmi.

Dalam peta jalan hilirisasi 28 komoditas, diproyeksikan menghasilkan USD618,1 miliar investasi, USD857,6 miliar ekspor, dan USD235,9 miliar nilai tambah.

Dengan nilai tambah tersebut, total tambahan ekspor dari program hilirisasi diperkirakan mendekati USD500 miliar. Menunjukkan penguatan hilirisasi memiliki potensi besar mendorong ekspor Indonesia hingga berlipat ganda.

Sejauh ini, hilirisasi telah memberikan dampak terhadap kinerja ekspor. Antara lain melalui peningkatan ekspor produk berbasis nikel dari sekitar USD1,3 miliar pada 2016 menjadi USD34 miliar pada 2025.

Selain itu, dari sisi pemerataan, pengembangan hilirisasi turut mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Tercermin dari sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi semester I-2026 yang berada di luar Jawa, dan berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis sumber daya alam.

Baca juga: 2027 Belanja Negara Disepakati Tembus Rp4.106 Triliun, Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

Lebih lanjut, Menko Airlangga mendorong percepatan transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi melalui penguatan agroindustri dan manufaktur, serta pengembangan digitalisasi, semikonduktor, AI, dan jasa.

Ketersediaan energi yang kompetitif dan makin hijau menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri dan memenuhi tuntutan pasar global.

Pemanfaatan teknologi seperti machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomasi juga terus berkembang di sektor industri untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Di sisi lain, AI membuka peluang pengembangan industri baru termasuk data center, yang didukung oleh potensi Indonesia dari sisi lahan, energi, air, dan pasar domestik.

Pengembangan ekonomi digital perlu diiringi dengan ketersediaan data yang berkualitas, dan penguatan sumber daya manusia.

Melalui kerja sama ASEAN dalam Digital Economic Framework Agreement (DEFA), ekonomi digital kawasan diperkirakan meningkat dari sekitar USD1 triliun menjadi USD2 triliun.

Indonesia, dengan porsi sekitar 40 persen ekonomi ASEAN, memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi digital kawasan.

Baca juga: Sungguh Berat Tantangan Indonesia Memacu Pertumbuhan Ekonomi

Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah terus memperkuat program vokasi dan kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk pengembangan talenta AI dan semikonduktor.

Sekitar 15 ribu talenta ditargetkan dikembangkan dalam tiga tahun ke depan, sebagai bagian dari persiapan SDM menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Transformasi ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan dari pertanian menuju industri, kemudian menuju digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi.

Penguatan hilirisasi, industrialisasi, energi hijau, dan digitalisasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional serta membuka peluang mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen.

“Jadi, inilah kesempatan-kesempatan yang terus didorong. Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan mengajak dunia usaha untuk bersama-sama memanfaatkan mbangun kesempatan yang ada,” pungkas Menko Airlangga.

Berita Terkait

Ekonomi

MotoGP Mandalika, Kemenpar Dorong Pengembangan Sports Tourism

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong penguatan langkah...

Kredit Macet Pinjol Naik Tinggi Dekati 5 Persen

Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan...

Butuh Investasi Hingga Rp2.258 Triliun Agar Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Pertumbuhan ekonomi 5,45 persen (ctc) pada semester I-2026, serta...

Insentif PPN DTP untuk Sektor Perumahan Diperpanjang Hingga 2027

Pemerintah menegaskan kembali komitmennya memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai...

Berita Terkini