Jakarta Architecture Festival Kembali Digelar, Tahun Ini Bareng M-Bloc Design Week
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta kembali menggelar festival arsitektur atau Jakarta Architecture Festival (JAF) 2026 di kawasan M-Bloc, Blok M, Jakarta Selatan.
Festival dibuka Gubernur Jakarta Pramono Anung yang diwakili salah seorang petinggi Pemprov DKI Jakarta, dihadiri para pengurus IAI Jakarta, Walikota Jakarta Selatan, dan juga Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti yang merupakan alumni arsitektur Undip Semarang.
Arsitek Teguh Aryanto, Ketua IAI Jakarta, menyatakan JAF 2026 berlangsung selama 23 Oktober sampai 2 November 2026.
“JAF 2026 diadakan berbarengan dengan M-Bloc Design Week (MBDW) 2026 di lokasi yang sama,” katanya dalam konferensi pers pembukaan festival di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia berbicara bersama Jacob Gatot Sura, Pendiri M Bloc Space & Creative Hub dan salah satu penggagas MBDW.
JAF 2026 yang mengambil tema Ambang Ruang, menampilkan aneka kegiatan. Mulai dari pameran arsitektur, sayembara desain arsitektur termasuk untuk ruang publik seperti bantar sungai dan halte, talk show, sampai fun bike.

Selama festival, IAI Jakarta juga konsisten menyediakan klinik atau konsultasi desain arsitektur gratis, untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menjadikan rumahnya lebih sehat.
Baca juga: JAF 2025: Arsitek untuk Semua, Ada Konsultasi Desain Rumah MBR dan Lembaga Bantuan Arsitektur
Menurut Teguh, Ambang Ruang diambil sebagai tema JAF 2026 guna mendorong arsitek mengimplemntasikan idealismenya sesuai dengan realita Jakarta yang sudah begitu padat dan komplek, tanpa merusak lingkungan.
“Kita sengaja adakan festival di ruang publik yang mudah diakses dan tidak berbayar seperti M-Bloc, bukan di hotel atau tempat eksklusif lainnya, guna makin mendekatkan arsitektur dengan masyarakat luas. Kita mengundang masyarakat datang ke festival supaya makin tahu apa itu arsitektur dan manfaatnya terhadap kehidupan masyarakat,” ujar Teguh.
Selama festival IAI menampilkan aneka kontribusi dan peran arsitektur terhadap metropolitan Jakarta, guna membantu menciptakan ruang hidup yang lebih baik bagi masyarakat.
Salah satu contohnya, adalah bedah rumah di kawasan kumuh Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, dan kerja sama dengan Dinas Kebudayaan dalam pemugaran bangunan cagar budaya di Jakarta, selain sayembara desain ruang bantar sungai dan fasilitas publik seperti halte itu.
Ke depan IAI akan mendorong Pemprov DKI memperbanyak penghijauan, karena penghijauan di Jakarta sangat kurang. Kemudian juga mendorong program bedah rumah lebih jauh, karena di Jakarta masih sangat banyak rumah yang tidak layak huni.
“Kami ingin IAI menjadi mitra strategis Pemprov Jakarta dalam mencapai target menjadi global city, menjadikan Jakarta sebagai kota yang manusiawi dan layak huni (liveable), namun juga tetap dekat dengan masyarakat,” jelas Teguh.

Baca juga: Dorong Jadi Ruang Kota yang Asyik, IAI Jakarta Gelar Festival Arsitektur Bantar Sungai
MBDW daur rupa
Sementara MBDW 2026 mengambil tema Daur Rupa dengan fokus mendorong keberlanjutan lingkungan (sustainability) melalui product design, interior design, fashion design, architecture design, dan graphic design. Selain di Jakarta, MBDW 2026 juga diselenggarakan di 5 kota lainnya.
Jacob mengungkapkan, MBDW 2026 mempertemukan desainer, arsitek, pelaku industri kreatif, komunitas dan masyarakat, untuk mengeksplorasi bagaimana desain bisa berkontribusi dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
MBDW mengajak masyarakat melihat desain arsitektur, interior dan produk, tidak hanya sebagai persoalan bentuk dan estetika, tapi juga sebagai proses yang mempertimbangkan penggunaan material yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya yang efisien, serta siklus hidup sebuah objek dan ruang.
Baca juga: MBR yang Mau Bangun Rumah Sehat di Lahan Mungil, Kini Bisa Minta Jasa Arsitek Gratis LBA
Karena itu MBDW menampilkan aneka bentuk desain produk, ruang, grafis dan arsitektur yang merupakan hasil daur ulang dan mendukung keberlanjutan.
“Keberlanjutan menjadi cara memikirkan kembali apa yang telah ada, bagaimana sesuatu digunakan, dan bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masa kini,” tutur Jacob.
Melalui pameran, diskusi dan berbagai program kolaboratif, MBDW membuka ruang bagi gagasan dan praktik desain yang lebih kontekstual, inklusif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

MBDW memposisikan desain sebagai bagian dari upaya kolektif membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan. Sebuah objek dapat menemukan fungsi baru, material dapat dimanfaatkan kembali, dan ruang dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Reopening New M-Bloc Space untuk Ruang Kreativias Masyarakat
Melalui eksplorasi material baru dari hasil daur ulang, seperti bagaimana bonggol jagung bisa menjadi wadah drum, sisa jaring nelayan yang terbuang menjadi material board untuk bangunan, sisa ampas kopi menjadi kap lampu, atau bahkan tas serba guna, dan banyak lagi, publik diharapkan bisa menangkap berbagai kemungkinan yang ada sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
“Masa depan berkelanjutan tidak harus selalu dimulai dengan menciptakan sesuatu yang baru, tapi juga dengan memahami, merawat, dan mengembangkan potensi yang telah kita miliki,” pungkas Jacob.